Kombinasi ini membuat tekanan terhadap rupiah kian persisten, hingga menduduki posisi terendahnya sejak tujuh pekan terakhir. Di tengah tekanan eksternal tersebut, Bank Indonesia (BI) mengatur ulang strategi intervensinya.
Melansir Bloomberg News, BI menyebut tengah mengurangi intervensi di pasar spot guna mengurangi penggunaan cadangan devisa. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan bahwa bank sentral kini mengandalkan pasar Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF) dan offshore NDF lantaran dianggap lebih efektif.
Bukan tanpa sebab BI menghindari penggunaan cadangan devisa berlebihan dalam strategi intervensi pasar guna meredam volatilitas rupiah. Prospek neraca perdagangan belum kunjung cerah.
Konsensus Bloomberg memperkirakan kinerja impor Agustus tumbuh 27,8% secara tahunan, lebih tinggi dari pertumbuhan 27,02% pada Juli. Sementara pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat tajam menjadi 2,5% dari 6,05%.
Jika terealisasi, makakombinasi tersebut menunjukkan kebutuhan impor masih lebih kuat, padahal kinerja ekspor masih kehilangan momentum. Prospek tersebut tentu akan memengaruhi nilai devisa yang dihasilkan.
Proyeksi itu juga menunjukkan bahwa pemulihan aktivitas ekonomi domestik belum sepenuhnya diimbangi oleh kekuatan ekspor, sehingga dukungan dari sektor eksternal terhadap pasokan valuta asing jadi lebih terbatas.
Di Asia, mata uang berbagai negara juga tertekan. Pelemahan baht Thailand menjadi yang paling tajam, disusul rupiah di posisi kedua, lalu ringgit Malaysia dan won Korea Selatan dan yen Jepang. Hampir semua mata uang Asia melemah hari ini kecuali yuan offshore.
Pelaku pasar juga akan mencermati arah inflasi Indonesia yang diperkirakan meninggi. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi September di 3,3% yoy, lebih tinggi dari 3,19% pada Agustus.
Percepatan laju inflasi dipicu oleh tingginya harga energi diperkirakan mulai merambat ke harga barang dan jasa inti, meski dampaknya sebagian tetap diredam oleh subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah.
Bloomberg Economics memperkirakan inflasi berpotensi menembus batas atas target BI yang dipatok 1,5%-3,5%. Terutama lantaran adanya risiko El Nino yang membuat harga pangan semakin meninggi.
(dsp/aji)
























