Hal ini kemudian akan berpengaruh pada kondisi fiskal pemerintah yang mau tak mau harus menambal subsidi BBM, sehingga potensi pelebaran defisit fiskal menjadi tak terhindarkan. Apalagi pemerintah memakai asumsi harga minyak hanyalah sebesar US$70 per barel.
“Beban energi yang berpotensi ini akan membuat kebutuhan dolar yang cukup besar ya, untuk memenuhi kuota impor energi,” kata Ibrahim.
Ibrahim memperkirakan setiap kenaikan US$1 per barel harga minyak mentah WTI dapat menambah kebutuhan anggaran pemerintah sekitar Rp3,5 triliun-Rp4 triliun. Dengan harga minyak yang berada jauh di atas asumsi APBN, tekanan terhadap fiskal berpotensi semakin besar.
Ibrahim juga menyoroti defisit transaksi berjalan di kuartal kedua yang mencapai 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurutnya, harga minyak yang berada di atas US$90 per barel pada Juli hingga September dapat meningkatkan kebutuhan impor energi dan memberikan tekanan terhadap transaksi berjalan.
Selain itu, Ibrahim memperkirakan Bank Indonesia masih akan melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Kondisi tersebut berpotensi membuat posisi cadangan devisa pada September mengalami penurunan.
Ia mencatat cadangan devisa Indonesia pada Agustus berada di sekitar US$146,5 miliar, meningkat dari sekitar US$145,3 miliar pada Juli. Namun, dengan BI yang terus melakukan intervensi di pasar, Ibrahim memperkirakan cadangan devisa September berpotensi kembali menurun.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga dapat memberikan tekanan melalui biaya transportasi dan logistik serta ekspektasi inflasi. Ibrahim memperkirakan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo berpotensi mengalami kenaikan pada awal Oktober.
“Kenaikan harga minyak mentah dunia yang tadi saya sebutkan ini pasti akan berdampak terhadap biaya transportasi, logistik, ekspektasi inflasi dan rupiah,” ujarnya.
Sehingga, Ibrahim mewanti-wanti pemerintah untuk menanggulangi potensi defisit dan inflasi imbas naiknya harga energi dan bersiap untuk menghadapi El Nino yang bisa mendongkrak harga secara signifikan.
(ell)



























