Setiap pengumuman mengenai meredanya ketegangan perdagangan lebih lanjut akan menjadi tanda bahwa dua ekonomi terbesar di dunia ini berada dalam posisi yang stabil.
China akan menjadi tuan rumah KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada November, sementara AS akan menggelar pertemuan para pemimpin G20 di AS pada bulan berikutnya.
"Kita dalam situasi perdagangan yang terkendali," kata Greer pada Jumat kepada CNBC. "Ya, kami telah mencapai kemajuan dan pada Senin kami akan merilis lebih banyak perincian mengenai apa yang telah kami capai selama beberapa minggu terakhir dalam negosiasi dengan pihak China."
Kerangka kerja tersebut diperkirakan akan mencakup transaksi yang diawasi Dewan Perdagangan yang baru dibentuk. Hal itu berpotensi mencakup pengiriman produk pertanian dan alat kesehatan AS ke China serta ekspor produk konsumen dari China, kata Greer.
Setelah KTT para pemimpin terakhir pada Mei, muncul antisipasi mengenai pengumuman pemotongan tarif yang mencakup sekitar US$30 miliar dalam perdagangan bilateral.
"Kami sebenarnya telah mencapai kesepakatan dengan pihak China mengenai sejumlah hal ini di bidang-bidang di mana—jika terjadi sengketa perdagangan atau penerapan langkah-langkah tarif di masa mendatang—kami akan mengesampingkan hal-hal tersebut," kata Greer.
Langkah ini akan memperkuat perpanjangan gencatan senjata tarif selama dua bulan, yang diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelum KTT dimulai. Namun, perpanjangan tersebut lebih singkat daripada yang diperkirakan oleh sejumlah pengamat.
KTT Trump-Xi sebagian besar fokus pada kemegahan dan seremoni. Kedua belah pihak tidak diharapkan menghasilkan terobosan besar dalam isu-isu yang menjadi sumber ketegangan, termasuk kecerdasan buatan dan Taiwan, selain masalah perdagangan.
Angka US$30 miliar yang sebelumnya disebutkan oleh para pejabat hanya mencakup persentase kecil dari keseluruhan hubungan perdagangan AS-China, yang nilainya mencapai hampir US$500 miliar dalam bentuk barang dan jasa tahun lalu, menurut data pemerintah AS.
Para pemimpin beserta istri mereka—Ibu Negara Melania Trump dan Ibu Peng Liyuan—menikmati jamuan teh di Gedung Putih sebelum singgah sejenak ke Gedung Arsip Nasional (National Archives).
Gedung tersebut menyimpan sejumlah dokumen paling bersejarah dan penting bagi AS, seperti Konstitusi dan Deklarasi Kemerdekaan.
Xi sebelumnya mengindikasikan bahwa ia juga menantikan dua kesempatan untuk bertemu Trump lagi pada akhir tahun ini.
Kesepakatan yang dinantikan mengenai perdagangan dan perpanjangan gencatan tarif merupakan pencapaian nyata utama dari KTT yang telah lama dinantikan ini.
Pertemuan tersebut sarat dengan kemeriahan, namun sejauh ini hanya memberikan sedikit indikasi adanya kemajuan dalam mengatasi berbagai gesekan dalam hubungan AS-China.
Sebaliknya, kesan mendalam yang tertinggal dari kunjungan kenegaraan kedua Xi ke AS ini justru terletak pada sambutan hangat dan mewah yang disiapkan Trump bagi pemimpin negara yang menjadi pesaing militer dan ekonomi Washington.
Trump menyambut Xi dengan karpet merah tepat di landasan pacu, serta menyuguhkan penampilan korps musik militer, atraksi terbang lintas udara, dan jamuan makan malam kenegaraan nan mewah yang dihadiri para tokoh besar dari Wall Street dan Silicon Valley.
Presiden AS tampak sangat menikmati kunjungan ini; memperlihatkan kepada Xi berbagai perubahan yang dilakukannya di Gedung Putih—termasuk pembangunan landasan helikopter—serta mengajak Xi, pemimpin negara asing, masuk ke dalam helikopter kepresidenan, Marine One.
Para pejabat memang membahas cara-cara mengelola ketegangan seputar AI, seiring persaingan untuk mendominasi industri ini muncul sebagai inti dari rivalitas AS-China.
Meski demikian, Trump bersikeras bahwa teknologi tersebut hanya memerlukan sedikit batasan dan tampaknya lebih tertarik pada gagasannya untuk mengubah citra AI menjadi “kecerdasan super.”
Saat ditanya wartawan apakah ia telah membahas perang AS dengan Iran, Trump mengatakan pada Jumat bahwa mereka telah membahasnya, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Namun, terkait Taiwan, Xi mendesak AS untuk secara resmi “menentang” kemerdekaannya, seruan eksplisit agar Trump mengubah kebijakan AS terhadap pulau otonom yang dianggap Beijing sebagai wilayahnya sendiri.
China terus meningkatkan tekanan terhadap AS terkait pusat industri cip yang ingin diisolasi Beijing dari panggung global.
Pertemuan antara Trump dan Xi pada Kamis berlangsung kurang dari dua jam, diselingi oleh pidato dan pertunjukan. Belum jelas seberapa besar kemajuan yang dicapai terkait sejumlah isu utama dalam hubungan kedua negara.
AS telah menyatakan kekhawatiran bahwa China tidak sepenuhnya mematuhi kesepakatan untuk memperlancar pasokan mineral tanah jarang yang krusial bagi produksi industri, sementara Beijing merasa keberatan atas pembatasan terhadap semikonduktor dan teknologi mutakhir lainnya.
Upaya Trump untuk melarang tiga media memasuki Gedung Putih berdampak pada peliputan KTT tersebut; sejumlah jaringan televisi besar menolak melakukan siaran hingga CNN diizinkan kembali bergabung dalam kelompok jurnalis yang mengelola liputan acara kepresidenan.
Pada Jumat, jaringan televisi besar kembali meliput kegiatan presiden. Juru bicara CNN menyatakan bahwa jaringan tersebut telah diizinkan kembali bergabung dalam kelompok peliputan tersebut.
(bbn)

























