Logo Bloomberg Technoz

Bahkan, dalam proyeksi terbaru, median proyeksi pejabat The Fed menunjukkan adanya kemungkinan satu kali kenaikan tambahan pada 2026, sementara tidak ada penurunan suku bunga tahun depan.

Sebagai catatan, yield US Treasury 10 tahun sempat berada di kisaran 4,96% pada Selasa (22/9/2026), sementara yield tenor 2 tahun berada di 4,71%. Setelah data ekonomi AS yang kuat keluar kemarin, yield 10 tahun kemudian menembus 5%, dan mencapai titik tertingginya sejak 2007 di 5,11%. 

US Treasury tenor 5 tahun mengalami kenaikan yield, tertinggi sejak 2007.

Obligasi Global 

Kenaikan yield US Treasury berpotensi merembet pada aset negara lainnya. Di Jepang misalnya, obligasi pemerintah tenor 10 tahun mengalami kenaikan 11 bps ke 3,06%. Setali tiga uang, obligasi Australia terkerek 10,9 bps jadi 5,35%, begitu juga dengan Selandia Baru yield naik 15 bps ke 5,05%, dan Singapura naik 7,8 bps ke 2,44%. 

Sementara pasar obligasi Korea Selatan dan China relatif stabil dengan pergerakan yield di 4,36% dan 1,67%. Namun, yield obligasi India ikut naik 4,6 bps ke 7,09%, begitu juga Filipina naik tipis 0,3 bps ke 7,38%. 

Adapun, yield obligasi berdenominasi dolar AS, seperti di Indonesia (INDON) tercatat melonjak 16 bps menjadi 6%, dan Filipina naik lebih tinggi 18,2 bps jadi 5,97%.

Di pasar obligasi Indonesia berdenominasi rupiah (INDOGB) pergerakan yield relatif beragam. Aksi jual menjangkiti sebagian tenor, di antaranya 2 tahun naik 2,6 bps jadi 6,8%, tenor 5 tahun naik paling tajam 8,9 bps ke 6,95%, dan tenor 4 tahun naik 8,3 bps ke 6,96%. Sebaliknya, tenor acuan relatif terjaga dan turun 1,6 bps ke 7,09%, bersama dengan tenor 12 tahun turun 3,8 bps ke 7,12% dan tenor 11 tahun turun 2,1 bps ke 7,1%. 

Pergerakan yield di pasar obligasi pemerintah RI (INDOGB), pada Kamis (24/9/2026). (Bloomberg)

Jessica Tasijawa, Fixed Income Analyst Mirae Assets, mengatakan kenaikan yield US Treasury dapat mempersempit spread masing-masing antara INDOGB dan UST menjadi 198,3 bps dan 187,7 bps. 

"Meskipun ruang relative value semakin menyempit, kami melihat INDOGB tenor menengah hingga panjang tetap menarik untuk diakumulasi secara bertahan, didukung oleh perpanjangan durasi oleh investor asing, serta semakin kecilnya kemungkinan Bank Indonesia (BI) melakukan pengetatan tambahan," sebut Jessica dalam catatannya. 

Menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, yield spread antara obligasi pemerintah 10 tahun terhadap US Treasury berada di level rendah itu membuat ruang kenaikan harga obligasi semakin terbatas dan justru membuka peluang terjadinya reversal yang cukup fluktuatif. 

"Dengan target rentang 7,2%-7,3% hari ini, dan kami melihat situasi ini sebagai momentum profit taking untuk tenor 5 tahun," kata Lionel. 

Di pasar valuta asing, pergerakan yield obligasi ini mendorong rupiah kembali menghadapi tekanan dengan depresiasi sebesar 0,47% ke Rp17.883/US$ di pasar spot. Sedangkan, di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah terdepresiasi 0,14% hingga menembus Rp17.920/US$. 

Bank Indonesia (BI) melalui Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan sedang mempersiapakan sejumlah upaya intervensi melalui transaksi NDF di pasar offshore, spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

(dsp/aji)

No more pages