Sebaliknya, hanya yen Jepang yang mampu menguat bersama dolar Hong Kong.
Tekanan yang terjadi pada mata uang Asia, termasuk rupiah berasal dari kombinasi faktor global. Kenaikan yield US Treasury membuat aset berbasis dolar AS kembali lebih menarik. Sementara, kenaikan harga minyak semakin meningkatkan risiko inflasi dan kebutuhan devisa negara-negara pengimpor minyak.
Kemarin, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan BI Rate di 5,75%. Keputusan itu memberi ruang bagi BI untuk melihat perkembangan perekonomian usai kenaikan sebesar 100 bps. Namun, kenaikan 100 bps itu juga membuat ruang BI untuk merespons melalui suku bunga juga tidak selebar sebelumnya.
Jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, maka BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten. Kenaikan harga minyak di atas US$100/barel berpotensi menekan mata uang melalui meningkatnya biaya energi. Terlebih, adanya fenomena El Nino yang juga meningkatkan risiko gangguan produksi dan pasokan pangan.
Bloomberg Economics memperkirakan inflasi kemungkinan akan menembus target 1,5-3,5% dalam beberapa bulan mendatang akibat harga minyak yang masih tinggi dan mulai munculnya El Nino. "Dengan pertumbuhan ekonomi yang kini berada di atas tren, kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya dampak lanjutan (spillover) terhadap harga barang dan jasa," kata Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, dalam catatannya.
Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), memperkirakan BI kembali berpeluang mengambil langkah pengetatan pada sisa kuartal IV-2026. Menurut Faisal, langkah BI yang sebelumnya telah menaikkan BI Rate 100 bps pada Mei-Juni merupakan respons yang dilakukan secara lebih awal (front-loaded), antisipatif (pre-emptive), dan selangkah lebih maju (ahead of the curve) untuk mengantisipasi kenaikan Federal Funds Rate satu kali pada paruh kedua 2026.
"Namun, dengan semakin kuatnya ekspektasi terhadap kenaikan FFR pada kuartal IV, kami merevisi proyeksi dasar BI Rate dengan memasukkan kenaikan 25 bps pada kuartal IV-2026, sehingga BI Rate diperkirakan mencapai 6% pada akhir 2026," jelas Faisal.
(dsp/aji)





























