Ekonom: Defisit 0,93% Tak Otomatis Cerminkan Kesehatan Fiskal
Redaksi
22 September 2026 08:20

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian Keuangan melaporkan defisit fiskal pada Agustus 2026 berada di angka 0,93% dari Produk Domestik Bruto (PDB) sementara itu keseimbangan primer APBN 2026 mencatatkan surplus Rp154 triliun.
Meski begitu, para ekonom menyebut bahwa hal tersebut tak otomatis mencerminkan kesehatan fiskal Indonesia. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman menilai, kesehatan fiskal tak cuma diukur dari defisit saja.
“Defisit 0,93% PDB dan surplus keseimbangan primer Rp154 triliun menunjukkan fiskal masih terkendali, tetapi belum otomatis berarti APBN semakin sehat. Kualitas fiskal juga ditentukan oleh kekuatan penerimaan, rigiditas belanja, biaya bunga dan utang, serta kemampuan APBN menghasilkan multiplier pertumbuhan,” kata Rizal kepada Bloomberg Technoz baru-baru ini.
Menurut dia, kualitas penerimaan harus dilihat dari sumber pertumbuhannya. Rizal bilang, APBN lebih sehat jika penerimaan meningkat karena basis pajak meluas, kepatuhan membaik, dan ekonomi menguat, bukan karena windfall komoditas atau tekanan yang semakin besar terhadap wajib pajak yang sudah patuh.
Selain itu, ia juga menyoroti kualitas belanja pemerintah. Menurutnya, masalah belanja bukan sekadar berapa besar anggarannya, tetapi seberapa besar multiplier ekonominya.



























