Suharyanto menjelaskan pemadaman karhutla di kawasan Bromo menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya kondisi medan yang memiliki kemiringan hingga 80 derajat sehingga menyulitkan pasukan darat untuk mencapai lokasi kebakaran.
"Jalan pertama, medan, jelas kan, apinya ada di ketinggian. Sudutnya sampai 80 derajat. Jadi pasukan darat kan tidak bisa naik sampai ke atas. Ini juga menyangkut keselamatan jiwa," katanya.
Kendala lainnya adalah keterbatasan sumber air. Menurut Suharyanto, sumber air yang dapat digunakan untuk operasi water bombing saat ini hanya berasal dari Ranu Pane.
"Kedua, sumber airnya tidak banyak. Jadi hanya yang bisa diambil di Ranu Pane," ujarnya.
Selain itu, pemadaman juga terkendala kondisi cuaca. Hujan dinilai dapat membantu proses pemadaman secara lebih efektif dan efisien.
"Ketiga adalah tidak bisa segera didatangkan hujan untuk WMC," kata Suharyanto.
Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat potensi awan hujan pada 14-16 Agustus atau sekitar 18 Agustus. Jika potensi tersebut terealisasi, pemerintah akan menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mendatangkan hujan di wilayah terdampak.
"Kalau memang betul-betul ada, nanti kita akan lakukan operasi modifikasi cuaca supaya datang hujan. Kalau hujan, tentu saja lebih efektif dan lebih efisien," tuturnya.
Sisa Dua Titik Api
Sebelumnya, BNPB melalui akun Instagram resmi @bnpb_indonesia menyebut memasuki hari kesepuluh penanganan karhutla di kawasan TNBTS, upaya pemadaman masih terus dioptimalkan.
Dari sebelumnya terdapat 34 titik api, BNPB menyebut tersisa dua titik api pada Selasa (11/8). BNPB menyatakan capaian tersebut tidak menyurutkan semangat tim untuk terus melakukan pemadaman.
(lav)
































