Bloomberg Technoz

Aksi Sosial dan Keberlanjutan PGEO

Dalam mengembangkan potensi panas bumi nasional, PGEO secara konsisten menerapkan praktik bisnis yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menjawab tantangan ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan mendorong pemanfaatan panas bumi untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Inisiatif tersebut antara lain inovasi melon geothermal di Ulubelu, pengembangan Pupuk Booster Katrili di Lahendong, serta penerapan teknologi Geothermal Dry House untuk pengeringan kopi di Kamojang.

Berbagai upaya tersebut membuahkan hasil nyata. PGEO menggelar Panen Raya Katrili 2025 untuk empat komoditas bersama petani di Tonsewer, Minahasa, sekaligus mengantarkan petani kopi Kamojang mencatatkan ekspor perdana ke pasar Asia dan Eropa.

Khusus di Kamojang, kawasan ini berada di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut dan menjadi salah satu wilayah penghasil kopi Arabika. Bersama PGEO, potensi tersebut dimanfaatkan oleh pelaku usaha kopi setempat untuk mengembangkan ekosistem bisnis yang lebih efisien melalui teknologi Geothermal Dry House. Inovasi ini memanfaatkan steam trap panas bumi dari PGEO sebagai sumber panas alternatif dalam proses pengeringan, sehingga menghasilkan biji kopi yang lebih higienis dengan kematangan yang konsisten.

Dari sisi operasional, teknologi ini mampu mempercepat proses pengeringan hingga tiga kali lipat dengan tingkat efisiensi mencapai 300%. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu 30 hingga 45 hari kini dapat dilakukan hanya dalam 3 sampai 10 hari. Selain meningkatkan kapasitas produksi dan menekan biaya operasional, inovasi ini juga membantu menjaga kualitas biji kopi sehingga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Melalui program ini, PGE saat ini bermitra dengan 3 kelompok tani (Ecovill, Akkar, Penyoeka Kopi) dan memberdayakan 320 keluarga petani kopi di sekitar wilayah Kamojang. Kopi Kamojang yang dihasilkan pun telah menembus pasar internasional di Asia dan Eropa melalui ekspor sebanyak 20 ton, menunjukkan bahwa pengembangan energi panas bumi dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal.

Selain pengembangan kopi, PGEO Kamojang juga menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal atay KANYAAH. Program ini mencakup berbagai inisiatif berbasis pemanfaatan langsung panas bumi, mulai dari pemanfaatan panas bumi untuk perikanan (Geothermal Fishery), budidaya pertanian (Geothermal Farming), pengolahan pascapanen (Geothermal Food), hingga produksi pupuk organik ramah lingkungan (GeO-Fert).

PGEO juga menjalankan berbagai program pelestarian lingkungan, termasuk konservasi Elang Jawa melalui Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK). Atas komitmennya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan memberdayakan masyarakat, PGEO Area Kamojang menjadi satu-satunya unit panas bumi di Indonesia yang berhasil meraih 15 penghargaan PROPER Emas berturut-turut.

Melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan, PGEO Area Kamojang telah menjangkau sekitar 15 ribu penerima manfaat di sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan. Capaian tersebut mencerminkan komitmen perusahaan untuk memastikan bahwa pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasi.

Kamojang merupakan wilayah panas bumi tertua di Indonesia yang pertama kali dieksplorasi oleh Belanda pada 1926. Eksplorasi oleh Pertamina dimulai pada 1974, sebelum PLTP Kamojang pertama resmi beroperasi secara komersial pada 1983. Kini, pengelolaan Wilayah WKP Kamojang dilakukan oleh PGEO dengan lima unit PLTP yang memiliki total kapasitas 235 megawatt (MW) dari 727 MW kapasitas terpasang yang dikelola PGEO.

Saat ini, PLTP Kamojang mampu memasok listrik bagi lebih dari 260.000 rumah tangga setiap hari sepanjang tahun tanpa bergantung pada sinar matahari, kondisi cuaca, maupun bahan bakar fosil. Sepanjang Januari-September 2026, Kamojang mencatat produksi 1.438 GWh, atau 118,77 persen dari target. Kontribusinya sekitar 35 persen terhadap total produksi, tertinggi di antara seluruh WKP PGEO. Operasi ini juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon hingga 1,22 juta ton karbondioksida per tahun, sejalan dengan upaya Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060.

Reporter

Hidayat Setiaji

Ruisa Khoiriyah

M Julian Fadli

Penulis

Hidayat Setiaji

Fotografer

-

Desain dan Pengembangan

Arie Pratama

Asfahan Yahsyi

G H Pamungkas

William Rince