Bloomberg Technoz

100 Tahun Panas Bumi Indonesia: Seabad Energi Bersih untuk Negeri

Panas bumi atau geothermal adalah sumber energi baru-terbarukan yang sangat potensial bagi Indonesia. Ibu Pertiwi kaya akan kandungan panas bumi, tetapi belum banyak termanfaatkan.

Mengutip laporan ThinkGeoEnergy pada 2024, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dalam hal produksi panas bumi. Dengan kapasitas 2.653 megawatt (MW), Indonesia berada di posisi kedua setelah Amerika Serikat (AS).

Di tengah gejolak harga minyak dan gas akibat perang di Timur Tengah, Indonesia membutuhkan sumber energi primer yang pasokannya stabil dan tersedia setiap saat. Kebutuhan ini menjadi semakin mendesak karena ketergantungan Indonesia terhadap minyak dan gas masih cukup tinggi.

Pada 2024, minyak masih menyumbang sekitar 29% dari bauran energi (energy mix), sementara gas menyumbang sekitar 16%. Di sisi lain, kontribusi energi baru terbarukan (EBT) baru sekitar 15%.

Di sinilah panas bumi memainkan peran penting. Sebagai sumber EBT dari dalam negeri, panas bumi mampu menyediakan pasokan energi yang stabil sepanjang waktu. Karakter ini menjadikannya penopang ketahanan energi nasional sekaligus memperkuat bauran EBT.

Indonesia adalah negara net-importir minyak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor minyak mentah dan hasil minyak pada Juli tahun ini bernilai US$ 3,77 miliar. Melonjak hampir 50% dibandingkan Juli tahun lalu.

Sepanjang Januari-Juli 2026, nilai impor migas Indonesia tercatat US$ 18,7 miliar.

Dari sini, terlihat bahwa panas bumi berpeluang berperan lebih besar. Jika dimanfaatkan secara optimal, panas bumi dapat memperbesar porsi EBT dalam bauran energi nasional sekaligus mendorong akselerasi transisi energi nasional.

Pembangkit Listrik

Seiring perkembangan industri yang kian masif, kebutuhan listrik pun terus bertambah. Pertumbuhan ini menuntut keandalan energi, yaitu pasokan listrik yang stabil dan tersedia sepanjang waktu, sehingga masyarakat dan industri terhindar dari pemadaman.

Di sinilah panas bumi memiliki keunggulan. Sebagai sumber energi lokal, panas bumi tersedia sepanjang waktu dan tidak bergantung pada kondisi cuaca seperti angin atau matahari. Karakter ini menjaga keandalan pasokan listrik, sekaligus memperkuat porsi EBT dalam bauran energi tanpa mengorbankan stabilitas sistem kelistrikan.

Dari sini kemudian kebutuhan akan energi baru-terbarukan yang lebih bersih menjadi sebuah keniscayaan. Berdasarkan simulasi BloombergNEF, konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik akan memuncak sekitar 2030. Selepas itu, konsumsi batu bara akan melandai dan panas bumi menjadi salah satu alternatif yang mengemuka.

Perjalanan Panas Bumi di Indonesia

Tahun ini menjadi momentum penting bagi industri panas bumi Indonesia karena menandai 100 tahun perjalanan pengembanganya, sejak pengeboran pertama di Kamojang pada 1926. Dalam satu abad, panas bumi berkembang menjadi salah satu sumber energi strategis Indonesia.

Selain menghasilkan listrik bersih dan stabil, pengembangan panas bumi juga memberikan dampak terhadap perekonomian, masyarakat sekitar wilayah operasi, penerimaan negara, serta mendukung agenda transisi energi nasional. Indonesia memiliki salah satu potensi panas bumi terbesar di dunia.

Namun sebagian besar potensinya masih belum dimanfaatkan. Padahal, sebagaimana disebut sebelumnya, Indonesia adalah salah negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia.

Pada 2014, kapasitas terpasang untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) adalah 1.403,5 MW. Lalu pada 2017 bertambah menjadi 1.808,5 MW.

Kemudian pada 2024, angkanya sudah mencapai 2,6 gigawatt (GW). Artinya, dalam kurun waktu satu dekade terjadi penambahan kapasitas sekitar 1,2 GW.

Sampai tahun lalu, total kapasitas terpasang PLTP nasional terus merangkak naik mencapai kisaran 2,71 GW. Didorong oleh peresmian beberapa proyek strategis baru seperti PLTP Lumut Balai Unit 2 dan PLTP Ijen.

"Saya melihat potensi panas bumi masih sangat besar dan merupakan low hanging fruit untuk mencapai lebih banyak COD (Commercial Operation Date),”

kata Eniya Listiyani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM.

Per 2024, kontribusi listrik yang dihasilkan dari panas bumi baru 5% dari total bauran energi nasional, atau sekitar 40% dari bauran Energi Baru-Terbarukan (EBT). Energi panas bumi juga memainkan peran penting dalam mendukung upaya dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan Indonesia.

Hingga 2024, pemerintah telah mengidentifikasi 362 titik potensi panas bumi dengan kapasitas total 23,6 GW. Selain itu, telah disiapkan sebanyak 62 Wilayah Kerja Panas Bumi dan 12 Wilayah Penugasan untuk Survei Pendahuluan dan Eksplorasi Panas Bumi yang masih aktif hingga saat ini. Ini menjadi landasan strategis dalam mendorong lebih banyak investasi dan pengembangan energi panas bumi di Indonesia.