Pemerintah Prancis sebelumnya menyatakan berencana mengerahkan 70.000 personel keamanan, termasuk pasukan elite antiteror, guna mencegah terulangnya kekerasan dan penjarahan skala nasional seminggu lalu yang membuat aparat penegak hukum kewalahan.
"Aksi unjuk rasa berjalan dengan baik," ujar Nuñez kepada para wartawan pada Sabtu malam. "Kita patut bersyukur bahwa kebebasan berekspresi dapat dijalankan, tetapi sangat disayangkan ada sejumlah individu yang hanya memiliki satu tujuan: membuat aksi unjuk rasa tersebut berakhir ricuh."
Banyak pengunjuk rasa membawa bendera serikat pekerja dan poster yang mengkritik polisi dan pemerintahan Presiden Emmanuel Macron. Kelompok mahasiswa dan serikat pekerja telah menyerukan aksi unjuk rasa lanjutan sampai pemerintah membatalkan rencana anggarannya dan meningkatkan belanja untuk layanan publik.
Saat aksi unjuk rasa berakhir di tengah hujan di sisi timur Paris, sejumlah kelompok—yang umumnya mengenakan helm atau hoodie hitam, kacamata pelindung, dan masker—bentrok dengan polisi.
Di Nantes, Prancis barat, polisi menggunakan meriam air untuk mencegah sejumlah orang memasuki lokasi di mana demonstrasi dilarang.
Aksi unjuk rasa nasional pekan lalu diikuti oleh lebih dari setengah juta orang dan berujung pada kekerasan, di mana para perusuh menyerang gedung-gedung publik, membobol toko-toko di berbagai wilayah—termasuk di Paris—, terlibat bentrokan dengan polisi, serta membakar sejumlah kendaraan.
“Hari ini, aparat keamanan kembali dihadapkan pada tingkat kekerasan yang sangat tinggi,” ujar Nuñez. “Berkat intervensi aparat penegak hukum, banyak aksi penjarahan berhasil dicegah. Berkat intervensi aparat penegak hukum pula, tidak ada serangan yang menyasar gedung-gedung publik, seperti yang terjadi pada 17 Oktober lalu.”
Dia menambahkan bahwa sekitar 1.000 orang telah ditangkap dan memperkirakan jumlah tersebut akan meningkat secara signifikan.
Di Paris, pihak berwenang membatasi unjuk rasa utama pada Sabtu di wilayah pinggiran tenggara kota, yakni antara Porte d’Italie dan Porte de Vincennes, guna menghindari rute-rute yang biasanya dilalui di pusat kota.
Sebelumnya, polisi menggunakan pengeras suara untuk memerintahkan massa meninggalkan Place de la Bastille—lokasi yang dikenal sebagai tempat lahirnya Revolusi Prancis pada tahun 1789—yang sedianya direncanakan sebagai titik awal demonstrasi.
Berbagai toko di Paris, termasuk sejumlah butik mewah, menutup jendela mereka dengan papan kayu dan menambah personel keamanan; beberapa di antaranya bahkan tutup total.
Tiga destinasi wisata populer—Museum Louvre, Musée d’Orsay, dan Museum Picasso—ditutup pada Sabtu, sementara pertandingan sepak bola antara Paris Saint-Germain dan Olympique Lyonnais di Paris terpaksa ditunda.
Meski demikian, sebagian wilayah Paris tetap beroperasi seperti biasa pada Sabtu.
Sebuah acara “Hail Mary” diselenggarakan oleh pemerintah kota dan Liga Sepak Bola Nasional (NFL) di sepanjang Sungai Seine dekat Katedral Notre-Dame menjelang pertandingan New Orleans melawan Pittsburgh pada Minggu.
Para penggemar yang berada di kapal wisata sungai melintas sambil mengibarkan pom-pom emas di atas kepala mereka dan mengenakan jersey hitam, warna seragam kedua tim tersebut. Menara Eiffel yang ikonik juga tetap buka untuk umum.
Para tentara turut dikerahkan untuk menjaga gedung-gedung penting. Helikopter dan kendaraan lapis baja yang dikenal sebagai Centaur juga disiagakan. Beberapa kota, termasuk Lyon, melarang aksi protes pada Sabtu dan memperpanjang jam malam.
Pada Kamis, Macron mengakui adanya “kegagalan perencanaan dan unsur-unsur kejutan” di balik peristiwa akhir pekan lalu. Pemimpin Prancis tersebut, yang telah menunda lawatan ke Afrika Barat yang sedianya dijadwalkan minggu depan, menyalahkan kelompok ultra-kiri atas apa yang ia sebut sebagai tindakan penghasutan.
Menurut Wakil Wali Kota Paris Emmanuel Grégoire, terdapat indikasi di media sosial bahwa kelompok perusuh berencana untuk kembali berkumpul di ibu kota Prancis pekan depan.
“Kami bersiap menghadapi situasi jangka panjang, yang akan berlangsung selama beberapa minggu,” ujarnya kepada surat kabar Le Parisien, seraya memperkirakan bahwa biaya yang harus ditanggung pemerintah kota bisa mencapai puluhan juta euro.
Didukung oleh kelompok yang beragam, mulai dari tokoh media sosial, mahasiswa, serikat pekerja, hingga partai-partai sayap kiri, demonstrasi pada Sabtu itu disebut sebagai “Acte II,” atau babak kedua, dari gerakan protes tersebut. Sebagian besar kemarahan ditujukan kepada Macron, yang popularitasnya merosot enam bulan menjelang akhir masa jabatan keduanya.
Gerakan ini masih mendapat dukungan mayoritas di kalangan masyarakat, menurut jajak pendapat Cluster 17 terhadap 3.000 orang dewasa untuk L’Opinion yang dilakukan pada 19-22 Oktober, meski dukungannya turun 4 poin menjadi 53%.
Pada saat yang sama, 59% responden ingin gerakan ini segera berakhir—naik 6 poin—seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dan sosial.
Survei menunjukkan kekerasan tersebut telah menguntungkan kandidat sayap kanan ekstrem Marine Le Pen, kandidat terdepan dalam pemilihan presiden April mendatang.
Dia mengumpulkan para pendukungnya di Orléans pada Sabtu untuk menghadiri kongres partai National Rally, sementara ribuan lawannya, termasuk para pemimpin sayap kiri dan serikat pekerja, menggelar aksi unjuk rasa di kota di Prancis tengah tersebut.
Jajak pendapat Ipsos-BVA-Cési École d’ingénieurs untuk Le Parisien yang diterbitkan pada Sabtu menunjukkan bahwa meski Le Pen masih memimpin, pemimpin sayap kiri France Unbowed Jean-Luc Mélenchon juga mendapat dorongan dari kerusuhan dan berada di posisi kedua, mengungguli berbagai pesaing berhaluan tengah. Survei terhadap 1.500 orang dewasa dilakukan secara daring pada 21-22 Oktober.
(bbn)



























