Jelasnya, BI akan menggunakan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun intervensi di pasar spot, bergantung pada kondisi dan kebutuhan transaksi di pasar.
Bila pelaku pasar belum ingin menarik dananya, bank sentral dapat menggunakan DNDF untuk membantu mengelola risiko nilai tukar. Namun, jika pelaku pasar ingin segera keluar dari pasar, BI dapat melakukan intervensi melalui pasar spot.
"Kalau masih bisa Dengan DNDF, dengan pengertian mereka gak mau keluar hari ini, kita cover dulu pakai DNDF dengan risiko di nilai tukarnya aman. Tapi kalau mau keluar hari ini ya kita masuk dengan intervensi SPOT," jelasnya.
Meski begitu, Erwin menilai pergerakan nilai tukar rupiah masih terkendali dan belum menunjukkan gejolak yang berlebihan, meski sudah menembus level Rp18.000/US$, tetapi tekanan tersebut masih dapat dikelola secara bertahap.
(prc/ell)





























