MHP
Untuk MHP, SMM memperkirakan pemangkasan 50% dari produksi saat ini dapat mengurangi pasokan sebanyak 15.000—18.000 metrik ton nikel per bulan.
Dalam skenario berbeda, jika tingkat operasi industri turun menjadi 50%, pengurangan pasokan diperkirakan mencapai sekitar 12.000 metrik ton nikel per bulan.
SMM menilai produsen MHP memiliki insentif terkuat untuk memangkas produksi karena margin produksi saat ini negatif.
Alasannya, biaya produksi MHP setelah dikurangi kredit kobalt mencapai mencapai sekitar US$14.500 per metrik ton nikel pada pertengahan Oktober, sedangkan harga jual di pasar spot berada di bawah US$13.000 per metrik ton nikel secara free on board (FOB).
“Pemotongan dalam skala sebesar ini akan secara signifikan memperketat pasar MHP yang pasokannya masih longgar, dan—dengan adanya dukungan biaya di baliknya—seharusnya dapat menghentikan penurunan nilai piutang secara definitif,” ungkap SMM.
“Namun, terjadinya pemulihan akan membutuhkan pengurangan stok yang signifikan di seluruh rantai pasokan hulu dan hilir, atau pemulihan yang jelas dalam permintaan di sektor hilir,” lanjutnya.
Nickel Matte
Untuk nickel matte, SMM mengungkapkan pemangkasan sebesar 50% dari estimasi produksi Oktober sebanyak 15.800 metrik ton nikel per bulan berpotensi mengurangi pasokan sekitar 7.900 metrik ton nikel per bulan.
Meski demikian, SMM menilai pemangkasan nickel matte sebesar 50% di seluruh industri relatif tidak mungkin terjadi.
SMM menegaskan produksi nickel matte Indonesia telah turun dari 21.100 metrik ton nikel pada Agustus menjadi 16.600 metrik ton nikel pada September.
Selain itu, SMM mencatat sebagian besar jalur produksi matte berbasis rotary kiln-electric furnace (RKEF) juga telah kembali memproduksi NPI karena konversi NPI menjadi nickel matte tidak lagi ekonomis.
“Secara keseluruhan, SMM menilai pemangkasan produksi matte sebesar 50% di seluruh industri relatif tidak mungkin terjadi. Pengurangan apa pun kemungkinan lebih berupa penyesuaian sementara di masing-masing produsen,” tegas SMM.
NPI
Sementara itu, SMM memperkirakan pemangkasan NPI sebesar 20% mengurangi pasokan lebih dari 20.000 metrik ton nikel per bulan.
SMM menyebut dasar perhitungan pemangkasan tersebut masih dibahas, sedangkan realisasi pengurangan produksi diperkirakan mulai berlaku pada November.
Namun, SMM menilai realisasi pemangkasan NPI dalam skala besar dinilai lebih sulit karena smelter masih memperoleh margin kas.
Produksi NPI di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, memang telah turun lebih dari 20% akibat kekeringan terkait El Niño. Sementara itu, tingkat operasi di kawasan industri lainnya secara umum masih berada pada kisaran 70%—80%.
“Pada 21 Oktober, pasar mendengar kabar mengenai pemangkasan NPI sebesar 20%. Berdasarkan angka tersebut, pasokan akan turun lebih dari 20.000 mt Ni per bulan,” tulis SMM.
Para petinggi sejumlah produsen nikel China berencana untuk bertemu paling cepat Selasa (20/10/2026) guna membahas pengurangan produksi secara terkoordinasi di pabrik bahan baku baterai mereka di Indonesia.
Perusahaan-perusahaan tersebut—termasuk Tsingshan Holding Group Co, GEM Co, Lygend Resources & Technology Co, dan Zhejiang Huayou Cobalt Co—berencana untuk menetapkan skala pengurangan produksi yang diperlukan.
Rencana tersebut rencananya ditempuh sebab lemahnya harga logam telah menekan profitabilitas operasi smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL) mereka, pertemuan tersebut menyusul diskusi serupa pada Agustus yang tidak menghasilkan kesepakatan.
Menurut sumber Bloomberg News, perusahaan-perusahaan itu kemungkinan akan membahas pengurangan produksi berdasarkan tingkat operasional saat ini.
Detail rencana tersebut masih bisa berubah dan belum ada jaminan bahwa pertemuan akan terlaksana atau kesepakatan akan tercapai.
Sekadar catatan, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan kapasitas produksi MHP Indonesia pada akhir 2027 bakal meningkat signifikan melebihi 900.000 metrik metrik ton nikel.
Sebagai perbandingan, menurut FINI, produksi smelter HPAL berupa MHP, nikel sulfat, dan kobalt sulfat mencapai sekitar 450.000 metrik ton nikel.
Sepanjang 2025, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi nickel matte mencapai 91.500 metrik ton dan feronikel mencapai 579.430 metrik ton.
Berdasarkan data Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), sepanjang 2025 terdapat 8 smelter HPAL yang memproduksi MHP i dengan kapasitas produksi 491.000 metrik ton nikel.
Pada 2026 AEER mencatat terdapat 4 smelter HPAL baru yang bakal beroperasi, sehingga kapasitas produksinya menjadi sekitar 840.000 metrik ton nikel.
Adapun, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat saat ini terdapat 422 izin usaha pertambangan (IUP) nikel aktif yang memasok 79 fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter.
Secara terperinci, 79 smelter tersebut terdiri atas 55 fasilitas pirometalurgi berteknologi RKEF, 10 pabrik hidrometalurgi berbasis HPAL, 10 penghasil nickel matte, dan 6 smelter baja nirkarat terintegrasi.
APNI mencatat kebutuhan bijih nikel 79 smelter tersebut—jika beroperasi pada kapasitas penuh — dapat mencapai 415 juta metrik metrik ton per tahun.
(azr/wdh)






























