Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah eksekutif di perusahaan barang mewah besar kini khawatir pelemahan tersebut akan meluas dan berlanjut hingga 2027, menurut sumber-sumber tersebut.

Kekhawatiran meningkat seiring meluasnya pengawasan Beijing terhadap kekayaan yang disimpan di luar negeri dan meredanya reli saham-saham kecerdasan buatan (AI) yang mengguncang kekayaan pribadi. Kondisi ini menguji keyakinan lama bahwa pelanggan terkaya di industri barang mewah relatif kebal terhadap resesi.

Merek-merek global selama ini mengandalkan konsumen kelas atas tersebut ketika kelas menengah China mengurangi belanja di tengah kemerosotan pasar properti yang berkepanjangan dan perlambatan ekonomi yang lebih luas. Kini, mereka menghadapi kemungkinan bahwa pelanggan utama maupun konsumen yang ingin membeli produk mewah untuk meningkatkan status sosial mereka sama-sama mengurangi belanja pada saat bersamaan.

“Pesan yang berulang kali kami dengar selama kunjungan tahunan ke Asia untuk membahas konsumen dan industri barang mewah dalam tiga tahun terakhir adalah bahwa kondisi memang sulit, tetapi ‘tahun depan akan lebih baik’,” tulis Anne-Laure Bismuth, analis HSBC Holdings Plc, dalam catatan risetnya bulan ini. “Namun, kali ini, pertemuan di Hong Kong, Xiamen, dan Shanghai tidak memberikan gambaran waktu maupun bukti bahwa konsumsi barang mewah di China akan pulih.”

Hermès dan Cartier tidak menanggapi permintaan komentar.

Meski demikian, permintaan yang tetap tangguh di wilayah Greater China lainnya, termasuk Hong Kong dan Makau, telah membantu mengimbangi sebagian penurunan penjualan di China daratan untuk merek perhiasan kelas atas seperti Cartier, menurut firma riset JL Warren. Kendati demikian, pelemahan di salah satu pasar terbesar kelompok barang mewah tersebut telah membebani kinerja keuangan mereka.

Pada Kamis, Hermès melaporkan penjualan yang stagnan di kawasan Asia-Pasifik pada kuartal III. Pendapatan di kawasan tersebut, tidak termasuk Jepang, berada di bawah ekspektasi analis yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,55%.

Kinerja di kawasan yang mencakup China dan menyumbang sekitar 42% dari total pendapatan Hermès tersebut menunjukkan bahwa produsen tas Birkin itu tidak kebal terhadap pembatasan belanja yang memengaruhi konsumen China.

Lingkungan makroekonomi China masih penuh tantangan, diperburuk oleh lesunya pasar keuangan dan kampanye terkait perpajakan yang terus berlangsung, kata Direktur Keuangan Hermès Eric Du Halgouet dalam pengarahan setelah perusahaan merilis laporan keuangan.

Hasil kinerja kuartal III LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton SE menunjukkan penurunan penjualan di China daratan hingga dua digit di tengah kontroversi terkait merek dagang yang melibatkan Louis Vuitton, merek terbesar grup tersebut. Pembelian oleh konsumen China di luar negeri juga turun dalam kisaran satu digit menengah. Pelemahan ini turut menyebabkan pendapatan LVMH di Asia, tidak termasuk Jepang, merosot 5%. Kawasan tersebut menjadi satu-satunya wilayah yang mencatatkan kinerja negatif bagi grup.

Penjualan Gucci turun 6% pada kuartal III, lebih buruk dari ekspektasi analis, akibat lemahnya konsumsi di China. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap penurunan kinerja kuartalan perusahaan induknya, Kering SA.

Di tengah perlambatan ekonomi yang lebih luas, konsumen China semakin selektif dalam membelanjakan uang untuk kebutuhan nonpokok. Mereka lebih memprioritaskan perjalanan, bersantap, dan pengalaman lainnya dibandingkan pembelian barang mewah yang mencolok. Bahkan di kalangan konsumen yang masih bersedia berbelanja, selera juga berubah. Banyak konsumen muda mulai menjauhi logo mencolok dan pembelian yang berorientasi pada status sosial, beralih ke produk sederhana yang mengutamakan keterampilan pembuatan dan kualitas. Tren ini mendorong popularitas gaya yang dikenal sebagai quiet luxury.

Pertumbuhan penjualan ritel China kembali melambat menjadi 0,4% pada Agustus sebelum membaik pada September. Barang-barang bernilai tinggi, termasuk perhiasan dan mobil, mencatatkan kinerja terburuk, dengan penerimaan usaha anjlok hingga 21% selama dua bulan tersebut.

Perbandingan kinerja tahunan kemungkinan akan menjadi lebih mudah tahun depan setelah penurunan tajam pada 2026. Hal ini berpotensi membantu kelompok barang mewah besar kembali mencatatkan pertumbuhan dalam laporan keuangan mereka, kata Jacques Roizen, salah satu pendiri firma konsultan Foresight Performance Partners yang berbasis di Shanghai. Namun, menurut dia, perbaikan angka pertumbuhan utama belum tentu menandakan pemulihan permintaan yang berarti.

“Di balik perbandingan tersebut, terdapat masalah struktural,” kata Roizen. “Sebagian besar konsumen kelas menengah yang bercita-cita membeli barang mewah telah menjauh dari produk-produk tersebut, sementara konsumen yang lebih kaya menjadi lebih berhati-hati. Tekanan mendasar ini kemungkinan tidak akan berubah dalam waktu dekat.”

(bbn)

No more pages