Sementara itu, tiga perusahaan berikutnya—yaitu National Shipping Co. of Saudi Arabia (dikenal juga sebagai Bahri), Kuwait Oil Tanker Company, dan unit pelayaran milik Abu Dhabi National Oil Co.—secara gabungan mengangkut 97,3 juta barel pada periode yang sama, menurut perhitungan Bloomberg berdasarkan data tersebut.
Analisis ini didasarkan pada kepemilikan kapal, bukan operator kapal.
Keempat perusahaan tersebut tidak menanggapi permintaan untuk memberikan komentar.
Sinokor, yang dimiliki oleh taipan Ga-Hyun Chung, mulai menonjol sejak pekan-pekan awal perang Iran.
Perusahaan ini telah mengumpulkan armada kapal tanker dalam jumlah besar menjelang konflik tersebut, baik melalui pembelian maupun sewa berjangka (time charter).
Ketika Selat Hormuz hampir tertutup sepenuhnya, kapal-kapal tanker tersebut disewa dengan tarif yang sangat mahal oleh para produsen yang perlu memuat minyak—jika tidak, mereka berisiko kehabisan ruang penyimpanan dan terpaksa melakukan penghentian operasional yang memakan biaya besar.
Seiring dengan pulihnya ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk hingga mendekati tingkat sebelum perang, Sinokor tetap menjadi salah satu pemilik kapal paling aktif dalam kegiatan pengangkutan ulang-alik (shuttling).
Kapal-kapal mereka melakukan perjalanan jarak pendek untuk mengambil minyak dari dalam Teluk Persia, berlayar melewati Selat Hormuz, lalu membongkar muatan di titik transfer antar-kapal (ship-to-ship transfer) di Teluk Oman.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa kapal-kapal tanker milik perusahaan ini telah membantu pengangkutan minyak mentah dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), serta belakangan juga terlibat dalam pengiriman minyak dari Irak dan Qatar.
Lloyd’s List adalah pihak pertama yang melaporkan dominasi Sinokor dalam kegiatan pelayaran selama September.
(bbn)






























