Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, berbagai kegiatan yang menggabungkan hiburan, perdagangan, dan kreativitas juga dinilai mampu mendorong aktivitas ekonomi Jakarta. Salah satunya Jakarta Fair, yang menurut Pramono dikunjungi lebih dari 6,1 juta orang dengan nilai ekonomi sekitar Rp8,2 triliun.

Sementara itu, penyelenggaraan Jakarta Great Sale disebut menghasilkan nilai hampir Rp26,8 triliun.

Melihat potensi tersebut, Pramono meminta jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempersiapkan penyelenggaraan Jakarta Great Sale berikutnya agar lebih menarik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Yang penting adalah transparansi dan membuat masyarakat atau orang di Jakarta, ketika mereka membelanjakan uangnya, mendapatkan value yang sesuai,” katanya.

Insentif 50% untuk Industri Perfilman

Selain mengoptimalkan kegiatan ekonomi kreatif, Pemprov DKI Jakarta juga memberikan dukungan melalui kebijakan perpajakan, khususnya bagi industri perfilman.

Pramono mengatakan pemerintah daerah memberikan keringanan pajak sebesar 50% bagi sektor tersebut. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat daya saing Jakarta sebagai lokasi produksi film, bukan sekadar pasar untuk penayangan film.

Dia menjelaskan, lebih dari 80% aktivitas perfilman yang dimaksud berlangsung di Jakarta. Karena itu, dukungan fiskal diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus mendorong tumbuhnya kegiatan kreatif di ibu kota.

“Harapannya, Jakarta tidak hanya sekadar tempat untuk nonton film, tetapi juga sekaligus tempat untuk kreator bisa membuat film-film dan juga pembiayaannya tentunya bisa menjadi lebih murah karena mendapatkan diskon 50%,” ujar Pramono.

Menurut dia, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah membangun ekosistem perfilman yang lebih kondusif bagi para pelaku industri, mulai dari kreator hingga pihak yang terlibat dalam pembiayaan produksi.

Jakarta Bidik Posisi Episentrum Event

Pramono menegaskan Pemprov DKI Jakarta bersama Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong Jakarta menjadi pusat ekonomi kreatif di berbagai bidang. Salah satu strategi yang dikembangkan adalah memperkuat posisi Jakarta sebagai *episentrum of event* atau pusat penyelenggaraan acara.

Menurutnya, ketersediaan fasilitas, kemudahan penyelenggaraan kegiatan, serta besarnya pasar di Jakarta menjadi modal untuk menarik lebih banyak acara berskala besar.

“Sekarang ini memang dengan berbagai fasilitas, kemudahan, dan juga pasar yang ada di Jakarta yang tinggi sekali, maka hampir setiap minggu ada event yang besar di Jakarta,” kata Pramono.

Dia menilai dukungan pemerintah terhadap penyelenggaraan acara menjadi salah satu faktor yang dapat memperluas aktivitas ekonomi kreatif. Berbagai acara tersebut juga berpotensi menggerakkan sektor lain, termasuk perdagangan dan jasa.

Melalui penguatan ekosistem tersebut, Pemprov DKI Jakarta berharap pertumbuhan ekonomi kreatif tidak hanya terpusat pada satu subsektor, tetapi juga mencakup berbagai bidang dan ruang kegiatan ekonomi di ibu kota.

Pramono menambahkan, kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat menjadi elemen penting untuk mewujudkan ambisi tersebut. Penyelenggaraan WCCE 2026 di Jakarta diharapkan dapat memperkuat keterlibatan ibu kota dalam pembahasan arah pengembangan ekonomi kreatif di tingkat internasional.

Dengan dukungan kebijakan, insentif, dan penyelenggaraan berbagai acara, Jakarta diharapkan mampu memperkuat perannya sebagai pusat aktivitas kreatif sekaligus meningkatkan kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian daerah.

(red)

No more pages