Nilai transaksi sebesar US$79 juta tersebut setara dengan Rp1,39 triliun, menggunakan asumsi kurs Rp17.703/US$. Perseroan menyebut nilai transaksi tersebut mencapai 26,40% dari ekuitas konsolidasi PACK per 31 Agustus 2026.
Manajemen menyatakan akuisisi Bumanik ditujukan untuk mengembangkan kegiatan usaha perseroan di wilayah Morowali Utara, Sulawesi Tengah, serta meningkatkan kinerja usaha sebagai perusahaan induk yang berfokus pada industri pertambangan bijih nikel.
Setelah transaksi rampung, Bumanik akan menjadi perusahaan terkendali PACK secara tidak langsung.
Bumanik merupakan perusahaan yang didirikan pada 2006 dan bergerak di bidang pertambangan bijih nikel. Berdasarkan keterbukaan informasi PACK, perusahaan tersebut memiliki wilayah konsesi seluas 4.778 hektare di Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Dalam kegiatan operasionalnya, Bumanik bergerak di sektor pertambangan bijih nikel. Perusahaan juga memiliki pengalaman dalam perdagangan produk pertambangan dan pengembangan proyek nikel di Indonesia.
Berdasarkan informasi pada situs resmi perusahaan, kegiatan eksplorasi Bumanik telah dimulai sejak 2006.
Perusahaan juga mengungkapkan telah mengembangkan infrastruktur pendukung berupa jalan pengangkutan sepanjang sekitar 6,3 kilometer yang menghubungkan area proyek awal di Blok Keuno dengan kawasan jetty.
Kepemilikan Bumanik sebelum akuisisi terdiri atas PT Merlot Grup Indonesia sebesar 98,99% dan Pure Venture Capitol Limited sebesar 1,01%. Melalui transaksi tersebut, PACK berencana mengambil alih keseluruhan kepemilikan perusahaan.
Kinerja Bumanik
Dari sisi keuangan, Bumanik mencatatkan penjualan neto sebesar Rp1,08 triliun selama delapan bulan hingga 31 Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan penjualan neto sebesar Rp790,41 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, laba periode berjalan Bumanik tercatat sebesar Rp242,59 miliar hingga Agustus 2026, lebih rendah dibandingkan Rp314,47 miliar pada periode yang sama 2025.
Berdasarkan laporan keuangan yang diaudit, Bumanik membukukan total aset sebesar Rp1,53 triliun per 31 Agustus 2026. Pada periode yang sama, total liabilitas perusahaan tercatat Rp1,16 triliun, sedangkan total ekuitas mencapai Rp369,96 miliar.
Sementara itu, sepanjang 2025, Bumanik mencatatkan rugi periode berjalan sebesar Rp118,78 miliar dengan penjualan neto Rp1,05 triliun.
Nilai pasar 100% saham Bumanik berdasarkan penilaian Kantor Jasa Penilai Publik Kusnanto & Rekan mencapai Rp1,439 triliun. Penilai independen tersebut menyatakan transaksi akuisisi Bumanik wajar.
(fik/naw)































