Sebelumnya, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin menegaskan belum memiliki rencana membatasi produksi bijih bauksit, meskipun cadangan diramal bakal habis dalam waktu kurang dari 12 tahun gegara masifnya investasi smelter aluminium asal China.
Cecep menyatakan saat ini populasi smelter alumina dan aluminium masih terbilang sedikit, sehingga belum terdapat rencana pembatasan produksi bijih bauksit.
Dia juga mengungkapkan, dari kuota produksi dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tahunan yang ditetapkan sebanyak 60 jtua ton, realisasi produksi bijih bauksit baru sekitar 30%—40% dari kuota tersebut.
“Kalau secara pengetatan produksi, kita masih diberikan kebebasan untuk bertambang ya. Aktualnya memang dari sekitar 60 juta ton RKAB yang kita berikan itu, hanya mungkin sekitar 30%—40% saja yang tercapai karena kebutuhan smelter yang di bawah [kuota produksi],” kata Cecep di sela BIG Downstream Insight, Selasa (6/10/2026).
Ihwal masifnya rencana pembangunan pabrik pemurnian alumina dan smelter aluminium, Cecep menyatakan masih berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian untuk mengetahui kebutuhan bijih bauksit pada masa mendatang.
Sekadar catatan, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menyatakan total kapasitas pabrik pengolahan alumina Indonesia diproyeksikan meningkat empat kali lipat dari 7 juta metrik ton pada 2025 menjadi 32,5 juta metrik ton pada 2030, dan hampir seluruhnya didorong oleh smelter-grade alumina (SGA).
Sementara itu, kapasitas smelter berbasis chemical grade alumina (CGA) diproyeksikan tetap stagnan di angka 300.000 metrik ton.
CREA mengungkapkan jika seluruh proyek terealisasi, permintaan bahan baku domestik bakal meroket dari 14 juta menjadi sekitar 65 juta metrik ton bijih bauksit setiap tahun.
Dengan skenario tersebut, CREA meramal cadangan bauksit terbukti Indonesia yang saat ini mencapai 1 miliar metrik ton berisiko habis dalam waktu kurang dari 12 tahun.
“Risiko ini diperparah oleh ketergantungan yang sangat besar pada investasi asing terutama dari China, serta dominasi tenaga kerja kontrak,” ungkap Analis Industri CREA Syahdiva Moezbar, dalam riset berjudul Indonesia Aluminium Downstream: Following Nickel Into a Captive Coal Boom.
Adapun, Ditjen Minerba Kementerian ESDM mencatat realisasi produksi bijih bauksit sepanjang 2025 mencapai 33,75 juta.
Tahun ini, dalam rencana kerja strategis (renstra) Kementerian ESDM, produksi bijih bauksit ditarget sebesar 22,64 juta metrik ton.
Sebagai informasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi hilirisasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp179,9 triliun atau naik 19,4% secara year on year (yoy).
Hilirisasi bauksit tercatat menjadi penopang realisasi investasi hilirisasi kuartal III-2026 dengan besaran Rp61,9 triliun, lebih tinggi dari investasi hilirisasi nikel senilai Rp48 triliun.
Pada periode yang sama, realisasi investasi besi baja tercatat mencapai Rp10,5 triliun, realisasi investasi tembaga Rp2,1 triliun, emas dan perak Rp1,6 triliun, serta sektor mineral lainnya Rp4,5 triliun.
Secara umum, realisasi investasi hilirisasi mineral pada kuartal III-2026 tercatat mencapai Rp128,6 triliun.
(azr/wdh)































