Logo Bloomberg Technoz

"Rupanya juga cukup unexpected ya, tidak memperkirakan pengumuman MSCI sebelumnya karena memang off schedule, artinya boleh dikatakan cukup tiba-tiba," jelasnya.

Jakarta Composite Index. (Sumber: Bloomberg)

Hasan mengatakan, OJK bersama BEI kemudian mengintensifkan komunikasi dengan para investor, baik domestik maupun asing, untuk menjelaskan respons regulator terhadap perkembangan tersebut.

Pertemuan dengan investor telah dilakukan sejak akhir pekan lalu dan berlanjut pada awal pekan ini. OJK juga menerima sejumlah permintaan pertemuan khusus dari investor institusi asing melalui perusahaan efek maupun anggota bursa.

"Jadi sudah dari hari Senin, kemudian tadi pagi dan nanti sore. Investor asing ini mendapatkan kesempatan bertemu melalui para pelaku usaha di pasar modal yang ada di dalam negeri," ujarnya.

Selain memenuhi permintaan pertemuan dari investor, OJK juga secara aktif menghubungi sejumlah investor untuk memberikan penjelasan mengenai langkah cepat yang telah dilakukan regulator.

Hasan menegaskan, pesan utama yang disampaikan dalam berbagai pertemuan tersebut adalah komitmen OJK bersama BEI dan seluruh pelaku pasar untuk menuntaskan agenda reformasi integritas pasar modal Indonesia.

Reformasi tersebut antara lain mencakup peningkatan transparansi informasi kepemilikan saham, penguatan pengawasan transaksi, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran di pasar modal.

OJK juga berkomitmen meningkatkan keterbukaan informasi agar penyedia indeks global atau index provider maupun investor dapat mengetahui secara lebih jelas struktur kepemilikan saham perusahaan tercatat.

"Kami ingin memastikan bahwa tindakan-tindakan pelanggaran, khususnya upaya manipulasi pasar dan transaksi terkoordinasi, tidak boleh terjadi lagi," kata Hasan.

Proyeksi Outflow

Goldman Sachs menyebut penghapusan Indonesia dari Indeks MSCI memicu arus dana keluar US$5,6 miliar atau setara sekitar Rp100,8 triliun.

Jumlah tersebut setara dengan volume perdagangan harian rata-rata selama 18 hari untuk saham-saham konstituen MSCI Indonesia Investable Market Index.

Tambahan dana sebesar US$2,7 miliar juga berisiko keluar jika FTSE mengambil langkah serupa, menurut analis, termasuk Alvin So dan Timothy Moe, dalam sebuah catatan riset.

“Dana investasi aktif yang menggunakan indeks-indeks tersebut sebagai tolok ukur memiliki tambahan aset lebih dari US$8 miliar. Namun, keputusan untuk menjual saham akan bersifat diskresioner, bukan didorong oleh kewajiban mengikuti perubahan indeks,” ungkap mereka dikutip Senin (19/10).

Rasio harga terhadap laba (price-to-earnings atau P/E) berdasarkan proyeksi laba 12 bulan ke depan untuk MSCI Indonesia turun ke level terendah sejak krisis keuangan global, yakni 7,3 kali.

Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan titik terendah saat krisis keuangan global dan pada 2001, masing-masing sebesar 5,1 kali dan 3,9 kali.

Kondisi ini “mengindikasikan bahwa valuasi saham mungkin belum mencapai titik terendah”.

“Kami tetap underweight terhadap Indonesia karena tekanan berkepanjangan akibat ketidakpastian status indeks, lemahnya laba perusahaan, serta hambatan makroekonomi kemungkinan akan membatasi pemulihan valuasi secara berkelanjutan," jelas riset tersebut

“Dalam sejumlah kasus penurunan klasifikasi negara berkembang oleh MSCI baru-baru ini, kinerja pasar saham negara terkait cenderung tertinggal dari tolok ukur yang lebih luas selama dua hingga tiga bulan setelah pengumuman konsultasi awal, sebelum akhirnya stabil," lanjutnya.

— Dengan asistensi Pramesti Regita Cindy

(fik/naw)

No more pages