Dampaknya adalah harga minyak langsung melonjak. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup di US$ 113,22/barel, tertinggi sejak awal Mei atau lebih dari lima bulan terakhir.
Saat harga energi meroket, maka dunia akan terus dalam ancaman inflasi tinggi. Ini akan membuat bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve dari Amerika Serikat/AS) sepertinya sulit untuk tidak menaikkan suku bunga acuan.
Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam dalam rapat bulan ini memang hanya 7,2%. Namun dalam rapat Desember kemungkinannya mencapai 74,8%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
“Harga logam mulia saat ini dalam fase perhitungan. Volatilitas masih akan tinggi sampai rapat The Fed berikutnya,” kata Alex Carrier, Portfolio Manager di DNCA Finance, seperti diberitakan Bloomberg News.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini, Jumat (23/10/2026)? Apakah bakal jatuh lagi atau bisa bangkit berdiri?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas masih terjebak di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 34. RSI di bawah 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Kemudian indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 36. Menghuni area jual (short) yang kuat.
Untuk perdagangan hari ini, harga emas sejatinya berpeluang naik. Target terdekat adalah US$ 4.116/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5.
Jika tertembus, maka harga emas berpotensi menguji rentang US$ 4.124-4.162/troy ons. Target paling optimistis ada di US$ 4.182/troy ons.
Namun apabila harga emas turun lagi, maka US$ 4.012/troy ons rasanya bisa menjadi support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko memangkas harga emas ke US$ 4.008-3.960/troy ons.
Target paling pesimistis adalah US$ 3.835/troy ons.
(aji)




























