Logo Bloomberg Technoz

Saham-saham perusahaan teknologi raksasa yang menjadi pendorong reli pasar saham AS selama empat tahun terakhir menjadi sasaran utama aksi jual. Hasil kinerja yang beragam dari perusahaan, termasuk Meta dan Tesla Inc, memperkuat kekhawatiran bahwa pemulihan saham-saham tersebut sejak akhir Maret telah berlangsung terlalu jauh dalam waktu terlalu singkat.

“Sentimen pasar tampaknya semakin rapuh belakangan ini karena investor kembali mempertimbangkan aset-aset terkait AI,” kata Eugene Leow, ahli strategi senior suku bunga di DBS Bank Ltd. “Dengan imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi dibandingkan standar beberapa waktu terakhir, investor mungkin ingin melakukan lindung nilai terhadap sebagian risiko ini dengan mencari aset yang lebih aman melalui Treasuries.”

Harga Treasuries melonjak di berbagai tenor pada Kamis ketika aksi jual saham terkait AI semakin dalam, gejolak melanda pasar Prancis, dan ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Kondisi tersebut mendorong investor memburu aset aman. Reli ini membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun di bawah 5% untuk pertama kalinya dalam sebulan. Pembelian kontrak berjangka Treasury juga meningkat ketika para pedagang menutup posisi yang sebelumnya bertaruh pada penurunan harga obligasi.

Kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI) dan potensi keuntungan yang akan dihasilkan telah menekan saham-saham teknologi dari level tertingginya baru-baru ini. Kekhawatiran tersebut juga mulai membebani prospek ekonomi secara lebih luas. Para pedagang turut mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sekali lagi tahun ini.

Di pasar lain, harga minyak melanjutkan kenaikan. Serangan pesawat nirawak terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco menewaskan dua orang tanpa mengganggu operasional, sementara serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd menimbulkan korban. Kelompok Houthi juga mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pelabuhan Yanbu di Arab Saudi.

“Situasinya terasa seperti hari ketika investor menghindari risiko, dan saham teknologi selalu menjadi yang pertama terkena dampaknya,” kata Joseph Saluzzi, mitra sekaligus kepala bersama perdagangan saham di Themis Trading LLC. “Reli obligasi juga menegaskan bahwa investor sedang mengambil pendekatan menghindari risiko.” Ia menambahkan, investor khawatir bahwa “setelah pemilu, perang Iran dapat meningkat dan berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan.”

Di Asia, saham-saham China akan menjadi sorotan setelah penurunan nilai pasar sebesar US$2,4 triliun dari puncaknya pada Mei mendorong pasar tersebut memasuki fase bear market. Saham Alibaba Group Holding Ltd mencatat penurunan terdalam dalam dua bulan pada Kamis, turut menyeret Hang Seng Tech Index anjlok 5%. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak April 2025, di tengah tekanan akibat lemahnya konsumsi dan kekhawatiran mengenai profitabilitas AI.

“Sentimen investor masih sangat buruk di pasar China, baik di dalam maupun di luar negeri. Tanpa katalis baru dari kebijakan pemerintah atau sektor teknologi, kondisi pasar yang bergejolak tanpa arah yang jelas ini mungkin berlanjut hingga awal 2027,” kata Homin Lee, ahli strategi makro senior di Lombard Odier, Singapura.

(bbn)

No more pages