Peluang tersebut mulai terwujud pada 2017, ketika Ardi memperoleh fasilitas KUR BRI senilai Rp25 juta. Pembiayaan itu dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas usaha, termasuk menyewa warung sebagai lokasi berjualan tetap.
Perubahan tersebut membuat pola usahanya semakin berkembang. Pelanggan tidak lagi harus mencari gerobak ketoprak yang berpindah-pindah, tetapi dapat langsung mendatangi warung untuk menikmati hidangan.
Keberadaan tempat usaha tetap juga memberikan keleluasaan bagi Ardi dalam melayani pembeli. Selain mempertahankan pelanggan lama, lokasi yang lebih mudah ditemukan membuka peluang untuk menjangkau konsumen baru.
“Sangat bersyukur sekarang sudah punya tempat berjualan sendiri, jadi pelanggan tidak perlu mencari gerobak saya lagi. Saya juga lebih leluasa melayani pembeli. Bagi saya, yang paling penting usaha peninggalan orang tua ini bisa terus berjalan dan semakin berkembang,” ungkap Ardi.
KUR BRI Dorong Keberlanjutan Usaha Keluarga
Bagi Ardi, perkembangan usaha ketoprak tersebut tidak hanya berkaitan dengan perubahan tempat berjualan. Dukungan anggota keluarga yang saling membantu turut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Usaha yang dahulu dirintis orang tuanya kini menjadi ruang bagi anggota keluarga lintas generasi untuk mengambil peran. Kebersamaan tersebut memperkuat tekad Ardi agar usaha keluarga terus bertahan dan memberikan manfaat ekonomi bagi generasi berikutnya.
Seiring perkembangan usaha, Ardi juga mulai menggunakan layanan pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) BRI. Fasilitas ini memberikan pilihan transaksi nontunai yang lebih praktis bagi pelanggan.
Penggunaan QRIS turut menjadi langkah adaptasi usaha kuliner tradisional terhadap perubahan kebiasaan pembayaran masyarakat. Dengan menyediakan alternatif transaksi digital, Ketoprak Mas Ardi dapat melayani pelanggan yang memilih pembayaran tanpa uang tunai.
Ardi mengapresiasi dukungan BRI yang menurutnya tidak hanya berupa akses pembiayaan, tetapi juga pendampingan melalui Mantri BRI. Pelayanan dan arahan yang diterimanya membantu perjalanan pengembangan usaha keluarga tersebut.
“Mantri BRI selama ini baik dan banyak membantu saya, mulai dari proses pengajuan KUR sampai memberikan arahan untuk usaha. Alhamdulillah, berkat dukungan tersebut, usaha saya bisa terus berkembang. Dari gerobak keliling hingga memiliki warung sendiri, saya ingin menyampaikan bahwa usaha kecil siapa pun dapat menyimpan harapan besar bagi sebuah keluarga,” ucapnya.
Pengalaman Ardi memperlihatkan bagaimana akses pembiayaan produktif dapat dimanfaatkan untuk memperkuat usaha mikro. Modal usaha yang diperoleh membantu pelaku usaha mengembangkan kegiatan ekonomi yang telah berjalan sekaligus membuka peluang untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Bagi usaha keluarga, keberlanjutan juga ditentukan oleh kemampuan mempertahankan pelanggan, menyesuaikan diri dengan perubahan, dan membangun kerja sama di lingkungan keluarga. Dalam perjalanan Ardi, ketiga hal tersebut berjalan beriringan dengan dukungan pembiayaan dan pendampingan usaha.
Riset BRI Ungkap Dampak KUR terhadap Omzet UMKM
Dampak pembiayaan terhadap perkembangan usaha mikro tersebut sejalan dengan hasil riset BRI Research Institute pada 2025 bertajuk Survei Efektivitas KUR dan Beban Biaya UMKM. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan KUR BRI memberikan dampak positif terhadap peningkatan omzet pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Berdasarkan survei terhadap 2.928 responden penerima pinjaman BRI, sebanyak 66,2% debitur melaporkan peningkatan omzet usaha. Dari jumlah tersebut, 45,9% responden mencatat kenaikan omzet pada kisaran 5% hingga 15%.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa akses terhadap pembiayaan produktif berperan dalam mendukung aktivitas usaha UMKM. Meski demikian, perkembangan setiap usaha tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kemampuan pengelolaan bisnis, permintaan pasar, dan konsistensi pelayanan kepada pelanggan.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, penyaluran KUR merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk mendukung agenda pembangunan nasional melalui penguatan kewirausahaan dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
"Melalui KUR, BRI membantu UMKM tumbuh lebih tangguh, naik kelas, dan berdaya saing di pasar. Peningkatan omzet yang dicapai para debitur menjadi bukti bahwa inklusi keuangan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput," ujar Akhmad.
Menurut Akhmad, pembiayaan UMKM melalui KUR sejalan dengan agenda Asta Cita, khususnya dalam meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas serta mendorong kewirausahaan. Akses permodalan diharapkan membantu pelaku usaha memperkuat kapasitas bisnis dan meningkatkan daya saing.
Kisah Ardi menjadi salah satu gambaran pemanfaatan KUR untuk menjaga keberlangsungan usaha keluarga sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis. Dari gerobak keliling hingga memiliki warung sendiri, ia berupaya mempertahankan warisan orang tua sembari menyesuaikan usahanya dengan kebutuhan pelanggan.
Dukungan pembiayaan, pendampingan, dan penggunaan layanan digital menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Bagi Ardi, tujuan akhirnya bukan hanya mengembangkan Ketoprak Mas Ardi, melainkan juga memastikan usaha yang telah dirintis sejak puluhan tahun lalu tetap menjadi sumber penghidupan keluarga lintas generasi.
(tim)





























