Logo Bloomberg Technoz

Perusahaan tersebut menjadi salah satu aset utama Jardine di kawasan Asia Tenggara, dengan portofolio bisnis yang mencakup otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan pertambangan.

Pertemuan Rosan dengan Ben Keswick berlangsung ketika Astra tengah menjalankan perubahan strategi korporasi untuk memperkuat fokus bisnis, mendisiplinkan alokasi modal, dan meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham.

Pada Mei 2026, Astra mengumumkan peta jalan strategi baru dengan memusatkan perhatian pada tiga bisnis inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan. Ketiga segmen tersebut menyumbang sekitar 90% laba perusahaan.

Astra juga memperjelas pendekatan terhadap bisnis di luar tiga segmen utama melalui pengembangan portofolio yang lebih terarah. Perusahaan mempertimbangkan keselarasan strategis, kapabilitas yang dimiliki, serta potensi penciptaan nilai jangka panjang dalam menentukan arah pengembangan bisnis.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Astra memperkuat disiplin investasi di tengah dinamika pasar dan tantangan bisnis yang masih berlangsung.

Dalam laporan keuangan semester I-2026, Astra membukukan pendapatan bersih Rp157,91 triliun, turun 3,03% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp162,86 triliun. Sementara itu, laba bersih turun 19,22% menjadi Rp12,53 triliun dari Rp15,52 triliun.

Penurunan laba tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya kontribusi bisnis alat berat dan solusi pertambangan, meskipun segmen otomotif dan jasa keuangan masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih masing-masing sebesar 9% dan 6%.

Di tengah perubahan strategi tersebut, Astra juga memperkuat kebijakan pengembalian modal kepada pemegang saham.

Perusahaan mengumumkan program pembelian kembali saham atau share buyback hingga Rp8 triliun untuk periode 12 bulan mulai Juli 2026. Anak usahanya, PT United Tractors Tbk. (UNTR), juga menyiapkan program buyback hingga Rp2 triliun untuk periode tiga bulan mulai Juli 2026.

Langkah tersebut sejalan dengan komitmen perusahaan untuk meningkatkan total imbal hasil pemegang saham sekaligus mempertahankan fleksibilitas keuangan dalam mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Di tingkat grup, Jardine Matheson juga tengah memperjelas arah investasi dan pengelolaan portofolionya. Pada Juni 2026, perusahaan mengumumkan target strategis hingga 2030, termasuk mencapai total shareholder return (TSR) minimal 9% per tahun berdasarkan periode lima tahun dan meningkatkan dividen minimal 5% setiap tahun.

Jardine juga menargetkan daur ulang modal minimal US$4 miliar dari portofolionya, dengan komitmen daur ulang modal dari Hongkong Land dan Astra dikecualikan dalam perhitungan target tersebut. Selain itu, perusahaan menyiapkan program pembelian kembali saham senilai US$500 juta hingga akhir 2027.

Dalam strategi tersebut, Jardine menyatakan akan berfokus pada bisnis berkualitas yang memiliki kemampuan menghasilkan arus kas, memperbesar laba, serta memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan laba dan dividen dalam jangka menengah.

Perusahaan juga menekankan investasi pada bisnis yang memiliki posisi kuat di pasar Asia Pasifik, dengan peluang ekspansi geografis maupun pemanfaatan teknologi untuk mendorong pertumbuhan.

Komitmen Jardine terhadap pengembangan investasi di Indonesia juga tercermin dari pengangkatan Christopher Ganis sebagai Managing Director, Investments sekaligus Country Head Indonesia, efektif 1 Juli 2026. Ganis bertugas memimpin aktivitas investasi Jardine di Indonesia dan mendukung inisiatif investasi serta pengembangan bisnis Astra.

Penunjukan tersebut memperkuat kapasitas investasi Jardine di Indonesia, seiring upaya grup untuk mengembangkan portofolio dan menciptakan nilai jangka panjang.

(fik/naw)

No more pages