Perang dan sanksi yang berlangsung selama bertahun-tahun membuat para produsen minyak—termasuk Rosneft, perusahaan terbesar di negara itu—makin kesulitan untuk mempertahankan volume produksi saat ini sekaligus mengembangkan cadangan untuk masa depan.
Proyek Vostok Oil milik Rosneft digadang-gadang sebagai bukti bahwa Rusia masih mampu melakukan keduanya.
Sechin menyatakan proyek ini akan meningkatkan produksi minyak Rusia hingga 10% pada 2030 dan memasok jutaan barel ke pasar dunia selama satu abad atau lebih.
Namun, pencapaian ini menutupi realitas yang lebih rumit: proyek Vostok Oil tertinggal bertahun-tahun dari jadwal dan masih jauh dari status sebagai pusat produksi minyak baru bagi Rusia.
Sebagian besar minyak mentah yang mengalir melalui jaringan infrastruktur Arktik yang mahal ini sebenarnya dialihkan dari ladang-ladang yang sudah berproduksi selama bertahun-tahun.
Menurut seseorang yang mengetahui data tersebut—yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena membahas masalah sensitif yang belum dipublikasikan—tepat sebelum terminal tersebut dibuka pada September, ladang-ladang minyak baru di klaster Payakha (yang diharapkan menjadi aset utama Vostok Oil) menyumbang kurang dari 5% dari total aliran minyak.
Citra satelit menunjukkan bahwa pengembangan terus berlanjut. Namun, menurut analisis Bloomberg terhadap citra tersebut serta diskusi dengan sejumlah analis, dibutuhkan waktu dan investasi bertahun-tahun lagi untuk meningkatkan skala produksi di ladang-ladang tersebut.
Pengembangan Vostok Oil “hanyalah salah satu tantangan yang dihadapi Rosneft—dan industri minyak Rusia secara keseluruhan,” ujar Viktor Kurilov, seorang analis senior di tim pasar minyak Rystad Energy.
Salah satu tantangan tersebut adalah kampanye serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina yang meluas secara drastis terhadap sektor minyak Rusia; serangan ini kian mendekati fasilitas Vostok Oil dan berulang kali merusak kilang-kilang yang dioperasikan oleh Rosneft serta perusahaan lain di wilayah Rusia bagian Eropa.
Menurut penilaian kerusakan yang dilihat oleh Bloomberg, salah satu kilang terbesar, Ryazan—yang memasok bahan bakar ke Moskwa dan wilayah sekitarnya—telah berhenti beroperasi selama lebih dari separuh waktu sejak pertama kali diserang pada Mei.
Bahkan saat beroperasi, kilang tersebut berjalan jauh di bawah kapasitas penuhnya.
Kondisi keuangan Rosneft pun kian memburuk. Laba perusahaan merosot sementara utang terus membengkak, padahal seharusnya ada keuntungan tak terduga yang bisa diraih.
Menurut pihak-pihak yang memahami masalah ini, para pejabat Rosneft telah menyatakan kekhawatiran bahwa perang di Ukraina—meskipun hanya berlangsung beberapa bulan lagi—dapat menimbulkan kerusakan jangka panjang bagi seluruh lini bisnis perusahaan.
Dampak yang kian berat terhadap Rosneft dan industri minyak Rusia secara keseluruhan menjelaskan mengapa upaya menghentikan serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak menjadi prioritas utama bagi Moskwa.
Bulan ini, Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencapai kesepakatan yang membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk membeli solar dari Rusia.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan dorongan, sementara Washington juga mendesak Kyiv untuk menghentikan serangan tersebut—serangan yang menjadi salah satu faktor utama pengetatan pasokan solar global.
Namun, upaya gencatan senjata di sektor energi ini dengan cepat gagal, sehingga mempersempit ruang bagi Rosneft untuk memulihkan diri, sekaligus meningkatkan risiko bagi pemerintah Rusia, yang memperoleh sekitar seperlima dari pendapatan federalnya melalui sektor minyak dan gas.
Laporan ini disusun berdasarkan percakapan dengan pihak-pihak yang memahami situasi di Rosneft, analisis para ahli, serta sejumlah dokumen yang ditinjau oleh Bloomberg selama enam bulan terakhir—termasuk penilaian kerusakan dan rencana perusahaan untuk melindungi serta memperbaiki kilang-kilang minyaknya.
Hingga penutupan jam kerja pada Rabu, Rosneft belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
‘Badai Sempurna’
Proyek Vostok Oil digagas pada era yang berbeda, yakni saat kilang-kilang minyak Rusia belum terus-menerus terancam oleh serangan Ukraina dan produksi minyak diperkirakan akan terus meningkat.
Saat memaparkan rencananya kepada Putin dalam pertemuan di Kremlin pada Februari 2020, Sechin menggambarkan sebuah kawasan minyak baru yang luas di Arktik, yang diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja dan industri di wilayah terpencil tersebut.
Salah satu tujuannya, menurut Sechin, adalah menjadikan Jalur Laut Utara (Northern Sea Route) sebagai koridor energi global yang utama.
Proyek ini juga dirancang untuk menjawab tantangan jangka panjang: banyak ladang minyak terbesar di Rusia telah beroperasi sejak era Soviet, sehingga penemuan cadangan baru menjadi semakin krusial untuk mengimbangi penurunan produksi di ladang-ladang lama tersebut.
Ambisi tersebut menarik minat investor asing, termasuk raksasa perdagangan komoditas Trafigura yang mengakuisisi 10% saham pada 2020, serta konsorsium yang dipimpin oleh Vitol yang membeli 5% saham lainnya pada tahun berikutnya.
Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 mengacaukan rencana-rencana tersebut. Baik Trafigura maupun konsorsium tersebut akhirnya menarik diri, sementara sanksi dari negara-negara Barat membatasi akses terhadap teknologi dan peralatan yang diperlukan untuk mengembangkan Vostok Oil serta membangun kapal tanker khusus yang mampu melayari perairan es.
Seiring dengan berlanjutnya perang, Ukraina meningkatkan serangannya terhadap infrastruktur Rusia, dengan semakin sering menyasar kilang-kilang minyak yang mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar.
Menurut data Bloomberg—yang dihimpun berdasarkan pernyataan resmi dari kedua negara—sepanjang tahun ini, pesawat nirawak Ukraina telah melancarkan setidaknya 114 serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia; jumlah ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Serangan-serangan tersebut telah menyebabkan tingkat operasional kilang minyak Rusia merosot ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir, memicu kelangkaan bahan bakar, dan memaksa Moskwa untuk membatasi ekspor bensin, solar, serta bahan bakar jet alias avtur.
Rosneft menanggung sebagian besar dampak kerusakan tersebut. Perusahaan ini mengoperasikan 12 kilang yang mencakup sekitar sepertiga dari total kapasitas pengolahan minyak Rusia.
Menurut catatan Bloomberg, dari 15 serangan pesawat nirawak yang terkonfirmasi terhadap fasilitas pengolahan minyak di Rusia pada September, lima di antaranya menyasar fasilitas utama milik Rosneft yang memasok bahan bakar ke wilayah Rusia bagian Eropa—kawasan dengan tingkat konsumsi terbesar.
Pada Maret, saat membahas prospek 2025, Sechin—sekutu lama Putin—menyatakan bahwa para produsen minyak Rusia tengah menghadapi "badai sempurna" yang dipicu oleh rendahnya harga minyak, sanksi Barat, dan melonjaknya biaya pinjaman.
Sejak saat itu, serangan berulang telah memaksa sejumlah kilang terbesar Rosneft untuk beroperasi dengan kapasitas terbatas atau bahkan berhenti beroperasi sepenuhnya.
Kilang Ryazan menjadi salah satu yang paling parah terdampak; fasilitas ini berulang kali diserang justru saat Rosneft berupaya memulihkan operasionalnya.
Data yang ditinjau oleh Bloomberg menunjukkan bahwa kilang lain, yakni Syzran, menghabiskan sebagian besar waktu dalam enam bulan terakhir dalam kondisi tutup total atau beroperasi dengan kapasitas kurang dari sepertiga.
Sementara itu, kilang Tuapse milik perusahaan tersebut yang terletak di pesisir Laut Hitam telah berhenti beroperasi sejak April.
Rosneft sempat berhasil mengoperasikan kembali beberapa kilang dalam hitungan pekan setelah serangan, namun fasilitas tersebut kembali diserang tepat saat perbaikan selesai atau hampir rampung.
Menurut sejumlah pihak yang mengetahui masalah ini—yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena membahas informasi sensitif—kebutuhan untuk terus-menerus memperbaiki peralatan yang rusak telah membebani operasional dan menyebabkan lonjakan biaya hingga ke tingkat yang, menurut para pejabat Rosneft secara pribadi, tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Tak ayal, perbaikan di beberapa kilang sengaja diperlambat; pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan dalam hitungan hari kini memakan waktu hingga berpekan-pekan.
Berdasarkan dokumen perencanaan perusahaan yang ditinjau oleh Bloomberg, upaya untuk melindungi fasilitas tersebut menggunakan kontainer pengiriman, jaring, dan kabel baja terbukti tidak efektif dalam menghadapi kawanan pesawat nirawak.
Kerusakan menjadi jauh lebih sulit diperbaiki ketika serangan menghantam unit-unit sekunder yang kompleks—seperti unitcatalytic cracker, reformer, dan hydrocracker—yang suku cadangnya sebelumnya dipasok dari negara-negara Barat.
Sanksi memperparah masalah dengan membatasi akses terhadap peralatan pengganti, sehingga memaksa Rosneft untuk mengandalkan tiruan buatan Rusia serta produk impor dari China—yang sering kali membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diperoleh dan tidak selalu kompatibel dengan mesin yang sudah ada—ungkap pihak-pihak yang memahami masalah ini.
Secara lebih luas, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyatakan serangan pesawat nirawak terhadap kilang-kilang minyak Rusia menimbulkan “dampak negatif yang bersifat akumulatif.”
Pada September, badan tersebut menurunkan proyeksi volume pengolahan minyak Rusia untuk 18 bulan ke depan menjadi sekitar 4 juta barel per hari, atau sekitar 30% di bawah tingkat sebelum perang.
Masalah Keuangan
Kerugian finansial pun makin meningkat. Laba bersih Rosneft pada semester I-2026 turun hampir seperlima menjadi 200 miliar rubel (US$2,4 miliar).
Rasio utang bersih terhadap laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi meningkat menjadi 1,8 kali lipat pada akhir Juni, yang tertinggi dalam lebih dari lima tahun, menurut laporan triwulanan sejak 2020, meskipun tiga laporan pada periode tersebut tidak mengungkapkan rasio tersebut, sehingga membuat estimasi ukuran dan cakupan pastinya menjadi lebih sulit.
Hal yang pasti, kondisinya telah membaik sejak saat itu.
Gangguan di Timur Tengah telah mendorong harga minyak mentah Ural Rusia yang digunakan untuk perhitungan pajak di atas US$90 per barel, lebih dari dua kali lipat harga pada awal tahun, sementara Moskwa memberikan subsidi miliaran rubel kepada produsen bahan bakar dalam negeri, termasuk Rosneft, dalam beberapa bulan terakhir.
Bank sentral Rusia juga telah memangkas suku bunga acuannya dari rekor 21% menjadi 14% selama dua tahun terakhir, meskipun Rosneft mengeluh bahwa laju penurunan tersebut “jelas tidak cukup.”
Gambaran keuangan perusahaan dan tingkat kerusakan infrastrukturnya diawasi secara ketat oleh Otoritas Investasi Qatar (QIA), yang memiliki 18,46% saham Rosneft dan mengalami penurunan tajam pembayaran dividen selama perang Ukraina, menurut tiga pejabat Qatar yang mengetahui masalah tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena membahas informasi sensitif.
QIA berharap konflik ini segera berakhir sehingga investasinya terlindungi dalam jangka panjang, kata salah satu sumber.
QIA menolak berkomentar.
Masalah Rosneft bertepatan dengan tanda-tanda kesulitan di Credit Bank of Moscow PJSC (MKB), yang dianggap oleh para pelaku pasar dan pejabat berada di orbit Sechin dan raksasa minyaknya.
MKB, sebagaimana diketahui, sedang menangani pinjaman bermasalah senilai US$8 miliar, Bloomberg melaporkan bulan lalu.
Perkembangan tersebut menyoroti bagaimana sektor energi dan perbankan Rusia berada di bawah tekanan pada saat yang sama, sebuah dinamika yang dikhawatirkan oleh para pejabat keuangan Rusia, kata orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.
Tekanan tersebut terjadi karena Rosneft masih menghadapi persyaratan belanja yang sangat besar di Vostok Oil.
Proyek ini masih sangat bergantung pada produksi dari Vankor, sekelompok ladang minyak yang sudah mapan dan mulai memompa minyak mentah pada 2009.
Terminal baru di Arktik ini memberi Rosneft rute lain untuk memasarkan minyak tersebut, namun tidak banyak berkontribusi dalam meningkatkan produksi Rusia.
Rystad Energy, yang telah menganalisis citra satelit konstruksi proyek tersebut, memperkirakan Vostok Oil akan memproduksi sekitar 310.000 barel per hari pada 2027, dengan sekitar 90% berasal dari cluster Vankor, tempat ladang minyak tersebut telah berproduksi selama bertahun-tahun.
Produksinya bisa meningkat menjadi 440.000 barel per hari pada 2030 – jauh di bawah sekitar 1 juta barel per hari yang dijanjikan Sechin – dengan ladang baru Payakha hanya menyumbang sekitar 80.000 barel per hari, menurut konsultan tersebut.
Memasukkan minyak ke pasar juga merupakan hambatan lain. Rosneft membutuhkan kapal tanker khusus untuk menavigasi perairan Arktik yang dingin, tetapi sanksi Barat mempersulit upaya untuk membangunnya.
Setidaknya diperlukan 30 unit pada 2030 untuk mengangkut produksi Vostok Oil yang direncanakan, menurut Sergey Vakulenko, seorang veteran industri dan pakar di Carnegie Endowment for International Peace.
“Mereka tidak ada saat ini,” katanya.
Peluang yang Terlewatkan
Di tengah perang Rusia di Ukraina yang telah memasuki tahun kelima, Putin mendapatkan semacam kelonggaran dari Washington.
Dalam percakapan telepon dengan Trump pada 9 Oktober, Presiden Rusia tersebut menyatakan bahwa Rusia akan melonggarkan sebagian larangan ekspor solarnya, sehingga memungkinkan ribuan barel per hari masuk ke pasar global.
Belum jelas apa, jika ada, yang akan diterima Rusia sebagai imbalannya. Namun, dalam beberapa hari setelahnya, Ukraina menghadapi pembatasan sementara terkait akses militernya terhadap teknologi satelit SpaceX dan intelijen Amerika Serikat.
Bagi Trump, kekhawatiran yang lebih mendesak berkaitan dengan situasi di dalam negeri AS.
Harga diesel melonjak hingga mendekati rekor tertinggi menjelang pemilihan umum kongres pada November, akibat tekanan dari perang serta gangguan pada pasokan bahan bakar global.
Kesepakatan tersebut dimaksudkan untuk membantu menurunkan harga, meskipun para pejabat AS mengakui bahwa langkah itu kemungkinan tidak akan memberikan dampak berarti bagi pasar diesel internasional.
Washington juga mendesak Kyiv untuk menghentikan serangan terhadap kilang-kilang minyak yang selama ini menghambat ekspor Rusia.
“Kecuali Presiden Putin setuju untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur krusial Ukraina, atau Presiden Trump setuju untuk memberikan kemampuan ofensif dan defensif tambahan kepada Ukraina, kecil kemungkinan Kyiv akan mematuhi gencatan senjata sepihak,” ujar Fernando Ferreira, direktur risiko geopolitik di Rapidan Energy Group.
Keterbatasan kesepakatan tersebut segera terlihat. Baik Rusia maupun Ukraina tidak mengonfirmasi gencatan senjata di sektor energi yang kemudian diumumkan oleh Trump, dan Kyiv kembali melancarkan serangan terhadap kilang minyak pekan lalu setelah menuduh Moskwa terus menyerang infrastruktur energinya.
Bahkan jika upaya diplomasi pada akhirnya menghasilkan jeda yang lebih langgeng, Ukraina telah mengubah dinamika medan perang.
Pada 2022, serangan Ukraina menjangkau target yang berjarak sekitar 650 kilometer (404 mil) dari perbatasan. Menjelang Juli tahun ini, pesawat nirawak telah menghantam kilang minyak Omsk jauh di Siberia barat, yang berjarak sekitar 2.500 kilometer.
Terminal Arktik milik Vostok Oil terletak 800 kilometer lebih jauh lagi, yang saat ini masih berada di luar jangkauan serangan Ukraina.
Namun, jarak yang sangat jauh—yang selama ini melindungi aset-aset energi Rusia di wilayah terpencil—kini tidak lagi memberikan jaminan keamanan seperti sebelumnya: jika jangkauan serangan drone Ukraina terus meluas dengan kecepatan seperti saat ini, bukan tidak mungkin Vostok Oil akan berada dalam jangkauan dalam hitungan bulan.
Pada upacara peresmian bulan lalu, Sechin masih menatap ke masa depan.
Sembari mengenakan pakaian hangat untuk menangkal hawa dingin di samping kapal Valentin Pikul, ia menyampaikan kepada Putin bahwa Vostok Oil akan mulai mengirimkan 30 juta ton minyak mentah paling cepat pada paruh kedua 2027.
Hal ini menjadi pertanda lain betapa proyek tersebut telah mengalami banyak kendala: terminal itu seharusnya sudah siap menangani volume tersebut sejak dua tahun lalu.
(bbn)



























