Tidak main-main, bahkan IHSG jadi yang terbaik di Asia siang ini. Kenaikan IHSG lebih tajam ketimbang SETI (Thailand) 0,57% dan KLCI (Malaysia) 0,2%.
Bahkan IHSG mampu bersinar kala sebagian besar indeks saham utama Asia redup. Nikkei 225 (Jepang) ambruk lebih dari 2%, Shanghai Composite (China) melemah hampir 1%, TAIEX (Taiwan) jatuh lebih dari 1%, Straits Times (Singapura) turun 0,13%, Hang Seng (Hong Kong) ambruk nyaris 3%, KOSPI (Korea Selatan) ambrol 3% lebih, dan PSEi (Filipina) terpangkas lebih dari 1%.
Lesatan IHSG disumbang oleh saham-saham yang menjadi top movers sebagai berikut:
-
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menyumbang 11,53 poin.
-
PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) menyumbang 6,89 poin.
-
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyumbang 6,41 poin.
-
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyumbang 5,47 poin.
-
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyumbang 4,44 poin.
Penyebab Lesatan IHSG
Usai koreksi akhir pekan lalu dan awal minggu ini, valuasi IHSG memang kian menarik. Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), valuasi IHSG berdasarkan pendekatan Price to Book Value (PBV) ada di 1,42 kali. Angka ini di bawah KLCI (1,5 kali), SETi (1,45 kali), atau Nikkei 225 (2,8 kali).
Mengutip riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia, tekanan jual yang amat dahsyat pada akhir pekan lalu dan awal pekan ini menciptakan peluang tersendiri. Kini saham-saham di bursa Nusantara sudah ‘seksi’.
“Kondisi tersebut memicu peluang bargain hunting, terutama untuk saham-saham yang sebelumnya terkoreksi tajam sehingga valuasinya menjadi lebih menarik,” sebut riset itu.
Namun, lanjut catatan Mirae Asset, kenaikan ini belum serta-merta menunjukkan bahwa kepercayaan investor telah pulih sepenuhnya. Pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia.
Adapun rencana pembelian kembali saham (buyback) oleh sejumlah emiten, tambah riset Mirae Asset, juga dapat menyediakan permintaan ketika tekanan jual meningkat. Namun, buyback hanya efektif sebagai penyangga jika dilaksanakan secara nyata dengan nilai yang memadai. Aksi tersebut tidak dapat menggantikan perbaikan fundamental perusahaan maupun menyelesaikan persoalan transparansi pasar yang menjadi perhatian MSCI.
“Sementara itu, intervensi pembelian saham oleh Danantara juga berpotensi memberikan katalis positif bagi pasar. Apabila direalisasikan dengan dukungan dana yang memadai dan dilakukan secara terukur, maka aksi tersebut dapat meningkatkan permintaan saham, menopang likuiditas, serta memperkuat sentimen investor dalam jangka pendek,” demikian riset Mirae Asset.
(aji)




























