Logo Bloomberg Technoz

Destry menjelaskan, insentif tersebut nantinya mencakup investasi pada surat berharga negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta instrumen dan pembiayaan lainnya.

Salah satu instrumen yang dioptimalkan adalah Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), yakni kontrak derivatif valuta asing untuk membantu investor mengelola risiko nilai tukar. BI memberikan insentif berupa pengurangan biaya premi lindung nilai hingga 45% untuk tenor 12 bulan.

Di sisi lain, BI juga mengoptimalkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung likuiditas dan pertumbuhan ekonomi. Destry menyebut penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) hingga 2% diperkirakan dapat menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun.

Kendati demikian, Destry tak menampik jika pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini karena terpengaruh sentimen MSCI. 

BI mencatat bahwa Rupiah sempat menguat hingga pertengahan September 2026, hingga nilai tukar rupiah pada 20 Oktober 2026 tercatat Rp17.985/US$ melemah sebesar 0,61% (ptp) dibandingkan dengan posisi akhir September 2026.

"Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham," tegasnya. 

Sehingga lewat tekanan tersebut, kembali Destry menekankan akan memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui optimalisasi instrumen moneter dan penguatan insentif guna mendorong aliran masuk investasi portofolio asing.

BI juga mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA). Insentif diberikan untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) beli lindung nilai konvensional kepada BI, serta transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra.

Sebagai catatan, rupiah menutup sesi perdagangan Rabu (21/10/2026) dengan depresiasi 0,1% ke Rp18.005/US$, setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI Rate di 5,75%. 

Rupiah sempat menguat kemarin. sehari sebelum pengumuman BI Rate. Namun setelah pengumuman, sepertinya pasar merespons lebih hati-hati sikap BI yang terlihat berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Di pasar luar negeri, rupiah terdepresiasi 0,15% ke Rp18.052/US$ dibayangi adanya kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia jadi standalone market oleh MSCI. Meskipun belum diputuskan dan masih menjadi pertimbangan MSCI, arus keluar modal asing dari pasar saham terjadi sejak akhir pekan lalu.

(lav)

No more pages