Laba kuartal II-2026 CATL yang diumumkan pada Selasa berada di bawah ekspektasi pasar, dengan margin di setiap unit bisnis yang tertekan akibat kenaikan biaya dan berbagai tekanan lain, termasuk pengurangan pengembalian pajak pertambahan nilai (PPN) untuk ekspor.
Para analis dari Citigroup Inc., Jefferies Financial Group Inc., dan Morgan Stanley memperingatkan kemungkinan revisi turun terhadap perkiraan konsensus pasar.
"Kami meyakini hasil ini juga memberikan sentimen negatif bagi pemain lapis kedua [tier-2] lainnya, karena mereka tidak akan mampu membebankan pajak konsumsi tersebut sepenuhnya kepada pelanggan jika CATL sendiri tidak melakukannya," tulis analis Citigroup dalam sebuah catatan.
Valuasi pasar CATL telah menyusut hampir separuhnya sejak mencapai puncak pada bulan Mei, seiring dengan kekhawatiran investor mengenai persaingan dan margin keuntungan.
Aksi jual saham semakin intensif bulan lalu di tengah kekhawatiran akan tren "de-CATL-isasi"—di mana sejumlah produsen otomotif mulai mendiversifikasi pemasok baterai mereka dengan beralih ke perusahaan pesaing yang lebih kecil—yang dikhawatirkan akan berdampak pada pendapatan dan volume produksi CATL.
Pada saat yang sama, pemerintah China mulai menerapkan kebijakan fiskal untuk membatasi kelebihan kapasitas dan persaingan yang berlebihan di industri ini.
Pada Juli, pemerintah mengumumkan akan mengakhiri pengecualian pajak konsumsi untuk baterai ion litium yang telah berlaku selama satu dekade, dengan menetapkan pungutan sebesar 2% yang mulai berlaku sejak September.
Pemerintah juga mengurangi pengembalian pajak pertambahan nilai (PPN) untuk ekspor produk baterai, dan akan menghapusnya sepenuhnya mulai 2027.
CATL sendiri telah memperingatkan adanya volatilitas dalam pesanan domestik sebagai dampak dari kebijakan tersebut.
Seorang eksekutif perusahaan yang menangani solusi penyimpanan energi domestik menyatakan bulan lalu bahwa jumlah pesanan memang lebih rendah, namun dampaknya diperkirakan akan terbatas.
“Para investor telah mengantisipasi adanya tekanan terhadap margin, meskipun tidak ada yang tahu persis seberapa besar tekanannya atau berapa lama hal itu akan berlangsung,” ujar Leonid Mironov, seorang manajer portofolio di Gavekal Capital.
“Beberapa masalah yang ada mencakup bauran produk serta perlunya menentukan bagaimana pembagian biaya rabat yang lebih rendah dengan para pelanggan; namun, semua ini akan membutuhkan waktu satu kuartal penuh atau lebih untuk dapat terlihat dampaknya.”
Dalam sebuah diskusi dengan para analis pada Selasa, CATL menyatakan bahwa mereka sedang berkomunikasi secara “aktif” dengan para pelanggan untuk bersama-sama memitigasi dampak yang ada.
Menurut transkrip diskusi tersebut, perusahaan juga tengah “mempromosikan teknologi baru dan produk baru guna mengurangi tekanan terhadap profitabilitas.”
Pada kuartal ketiga, total volume penjualan perusahaan melampaui 260 gigawatt-jam, dengan baterai penyimpan energi mencakup sekitar seperempat dari total tersebut.
Perusahaan menyebutkan bahwa permintaan global—termasuk untuk kendaraan listrik—mungkin “tidak sepesimis perkiraan pasar, dan masih memiliki potensi pertumbuhan yang baik.”
Para produsen baterai berlomba-lomba memanfaatkan lonjakan global dalam sektor penyimpanan energi, yang dipicu oleh integrasi energi terbarukan ke dalam jaringan listrik serta meningkatnya permintaan dari pusat data (data center).
Namun, kondisi ini juga memicu persaingan yang semakin ketat di industri tersebut, tepat pada saat sektor kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) mengalami perlambatan pertumbuhan.
Analis Morgan Stanley mencatat bahwa meskipun CATL tetap mempertahankan keunggulan kualitasnya, persaingan harga di pasar penyimpanan energi “dapat menekan margin per unit.”
Mereka menambahkan bahwa pemulihan memang diharapkan terjadi, “namun besarnya pemulihan tersebut akan sangat bergantung pada bauran produk serta tingkat intensitas persaingan.”
(bbn)




























