Logo Bloomberg Technoz

Tiga Alasan

Dia mengungkapkan setidaknya ada tiga alasan utama mengapa target ICP US$75/barel terlalu rendah. 

Pertama, seluruh lembaga internasional memproyeksikan harga minyak 2027 lebih tinggi dari asumsi pemerintah. 

Kedua, kisaran pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Pikiran Fiskal (KEM-PPKF) berada pada rentang US$70—US$95/barel, tetapi Pemerintah Indonesia justru memilih angka akhir yang mendekati batas bawah. 

Ketiga, rekam jejak menunjukkan selisih rata-rata antara asumsi dan realisasi ICP periode 2019—2024 mencapai US$17,2/barel, di mana penetapan asumsi tahun ini senilai US$70/barel juga meleset sekitar US$20—US$30.

Yayan menambahkan penetapan asumsi ICP yang terlalu rendah hanya membuat anggaran belanja subsidi dan kompensasi terlihat kecil di atas kertas. 

Meskipun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) serta pajak migas ikut naik saat harga minyak mentah melambung, ujarnya, beban belanja negara akan membengkak jauh lebih cepat.

Kondisi ini terjadi karena posisi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak (net oil importer) yang menahan harga BBM bersubsidi di dalam negeri.

"Asumsi realistis disertai skenario tekanan lebih kredibel daripada satu angka rendah," tegas Yayan.

Kesenjangan antara asumsi dan realisasi ICP dinilai membawa konsekuensi serius terhadap ketahanan APBN. 

Berdasarkan perhitungan sensitivitas fiskal, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 di atas asumsi akan memperlebar defisit anggaran sebesar Rp1,9 triliun hingga Rp8,5 triliun.

Dalam perhitungan Yayan, jika ICP melonjak hingga US$100/barel tahun depan, beban defisit berpotensi bertambah Rp48 triliun hingga Rp212 triliun. 

Kondisi tersebut bisa mendorong defisit anggaran menyentuh angka 3,16% dari PDB, yang secara hukum melampaui batas aman undang-undang sebesar 3%.

Selain potensi pembengkakan defisit, Yayan mengingatkan adanya dampak risiko kredibilitas yang jauh lebih besar bagi pemerintah.

Melesetnya asumsi anggaran secara signifikan dapat memicu revisi anggaran secara berulang, menumpuknya tagihan kompensasi energi kepada BUMN seperti Pertamina dan PLN, hingga pemotongan anggaran belanja lain pada pertengahan tahun.

Tak hanya faktor ICP, tekanan anggaran juga makin diperberat oleh pelemahan nilai tukar rupiah.

Yayan mencatat bahwa setiap pelemahan rupiah sebesar Rp100 terhadap dolar AS akan menambah defisit anggaran sekitar Rp3 triliun.

Guna mengantisipasi dampak gangguan pasar energi global tersebut, Yayan mendorong pemerintah untuk segera menyiapkan cadangan risiko harga minyak serta menyisihkan ruang defisit sekitar Rp168 triliun. 

Dia juga merekomendasikan pemerintah menetapkan aturan pemicu revisi anggaran secara transparan dari awal, memastikan pembayaran kompensasi energi dilakukan tepat waktu, mempercepat reformasi sasaran subsidi BBM, serta memperkuat stok penyangga energi nasional terutama di wilayah Indonesia bagian timur.

"Aturan jelas mencegah kejutan dan menjaga kepercayaan pasar," kata Yayan.

Untuk diketahui, asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2026 di level US$70/barel. Nilainya lebih rendah dibandingkan dengan asumsi pada APBN 2025 yang senilai US$82/barel.

Selain itu, target produksi siap jual minyak dan gas bumi (lifting migas) dipatok sebesar 1,594 juta barel setara minyak per hari (BOEPD). Jumlah tersebut terdiri atas produksi minyak sebesar 610.000 barel per hari (BOPD) dan gas bumi sebesar 984.000 BOEPD.

Adapun, kondisi pasar energi global diperkirakan masih diselimuti ketidakpastian hingga 2027.

Berbagai dinamika geopolitik, keterbatasan pasokan, serta fluktuasi rantai pasok minyak dunia diproyeksikan terus berlanjut, yang membuat harga komoditas energi tetap berada pada level yang relatif tinggi dan sulit diprediksi secara stabil.

Lembaga-lembaga keuangan internasional seperti EIA dan IMF memproyeksikan bahwa krisis energi global belum sepenuhnya mereda dalam beberapa tahun ke depan.

Di sisi lain, Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat cadangan operasional BBM jenis Pertalite (RON 90) kini merosot ke kisaran 16 hingga 18 hari, jauh di bawah posisi aman ideal yang berada di atas 20 hari.

(smr/wdh)

No more pages