Dia mengungkapkan Indonesia telah memiliki pabrik pengolahan litium, meskipun tidak memiliki bahan baku atau sumber daya litium.
“Jadi mungkin ini yang menjadi banyak pertanyaan dan kritik dari orang-orang juga terkait dengan hilirisasi di Indonesia. Sekarang Indonesia menjadi salah satu sumber produsen untuk komponen-komponen baterai litium seperti anoda, katoda baterai,” ujarnya.
“Bahkan kita juga sudah memiliki lithium refinery di mana sebenarnya sumber daya litiumnya kita tidak memiliki di Indonesia,” kata Seto.
Seto juga meramalkan ekspor produk aluminium Indonesia sepanjang 2026 bakal mencapai US$7,2 miliar atau setara dengan Rp129,54 triliun.
Seto menjelaskan hilirisasi aluminium di Indonesia sedang berkembang secara pesat, tidak hanya terjadi di komoditas nikel.
Dia memperkirakan ekspor produk aluminium Indonesia pada tahun ini mengalami lonjakan ke US$7,2 miliar dari nilai ekspor 2024 sejumlah US$3,5 miliar.
“Sekarang [hal] yang terjadi bukan hanya hilirisasi nikel yang terjadi secara masif di Indonesia, tetapi ada dua komponen hilirisasi lainnya yang juga berkembang cukup pesat. Pertama adalah hilirisasi aluminium,” kata Seto.
Sebagai informasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi hilirisasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp179,9 triliun atau naik 19,4% secara year on year (yoy).
Hilirisasi bauksit tercatat menjadi penopang realisasi investasi hilirisasi kuartal III-2026 dengan besaran Rp61,9 triliun, lebih tinggi dari investasi hilirisasi nikel senilai Rp48 triliun.
Pada periode yang sama, realisasi investasi besi baja tercatat mencapai Rp10,5 triliun, realisasi investasi tembaga Rp2,1 triliun, emas dan perak Rp1,6 triliun, serta sektor mineral lainnya Rp4,5 triliun.
Secara umum, realisasi investasi hilirisasi mineral pada kuartal III-2026 tercatat mencapai Rp128,6 triliun.
Sepanjang Januari—September 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun atau tumbuh 11,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sektor hilirisasi mineral menopang investasi sepanjang Januari—September 2026 dengan nilai Rp335,1 triliun.
Secara terperinci, hilirisasi nikel masih menjadi penopang investasi hilirisasi hingga kuartal III-2026 yakni sebesar Rp118,9 triliun.
Posisi kedua ditempati bauksit dengan realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp115,7 triliun. Ketiga, hilirisasi besi baja dengan realisasi investasi Rp40,8 triliun.
Kemudian, hilirisasi tembaga dengan realisasi investasi sebesar Rp39,5 triliun, hilirisasi pasir silika dengan realisasi Rp7 triliun, dan hilirisasi komoditas mineral lainnya dengan realisasi Rp13,2 triliun.
(azr/wdh)





























