Logo Bloomberg Technoz

Harga minyak yang bertahan tinggi diperkirakan akan mengerek inflasi global. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi global dapat naik jadi 4,4% di akhir tahun ini, jika harga minyak di atas US$100/barel.

Dari pasar obligasi global, US Treasury melemah, dengan yield acuan 10 tahun naik 2 bps jadi 5,12%, dan tenor 2 tahun dan 30 tahun juga mencatat kenaikan serupa.

Pelemahan di pasar obligasi turut menekan pasar obligasi Asia, termasuk Indonesia. Permintaan dalam lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) alias sukuk kemarin melemah 30,19% jadi Rp22,76 triliun, turun sebanyak Rp9,84 triliun dari lelang sebelumnya Rp32,61 triliun. 

Di tengah tekanan ini, rupiah diperkirakan terkonsolidasi dengan bias melemah di rentang Rp18.000-Rp18.100/US$ akibat tingginya harga minyak mentah. 

Dengan adanya tekanan terhadap rupiah yang kian persisten, perkirakan terhadap suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pun kian terbelah. Sebanyak 17 ekonom/analis dari 38 yang disurvei kini memperkirakan BI akan mengerek BI Rate jadi 6%, dua orang bahkan berpendapat BI perlu menaikkan BI Rate ke 6,25%. 

(riset)

No more pages