Perkembangan di Timur Tengah menjadi pemberat gerak harga emas. Bloomberg News mengabarkan, sempat ada selentingan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan segera mencapai kesepakatan untuk meredakan perang yang meletus sejak akhir Februari lalu. Namun ternyata kabar itu tidak akurat, menurut seorang diplomat yang terlibat dalam proses negosiasi.
Alhasil, harga minyak pun masih bertahan tinggi. Kemarin, harga minyak jenis brent berada di level US$ 109/barel.
Tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi akan membuat bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve di AS) sulit untuk tidak mengerek suku bunga acuan. Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) oleh The Fed dalam rapat bulan ini memang hanya 16,1%.
Namun dalam rapat Desember, peluangnya mencapai 76,1%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.
(aji)






























