Logo Bloomberg Technoz

Penyerapan Pemerintah

Meski penawaran turun, pemerintah menyerap di jumlah yang sama dengan lelang sebelumnya, dan memangkas penyerapan di sebagian tenor. 

Pada seri SPNS12042027 pemerintah memangkas penyerapan sebesar Rp650 miliar jadi Rp2 triliun, sebelumnya Rp2,65 triliun. Kemudian, di seri PBS034 pemerintah memangkas penyerapan Rp450 miliar menjadi Rp150 miliar dari Rp600 miliar menjadi hanya Rp150 miliar. 

Bahkan, di seri PBS030 terjadi pemangkasan paling besar yakni Rp1,6 triliun. Sehingga pemerintah hanya menyerap Rp200 miliar, padahal sebelumnya sempat tembus Rp1,8 triliun. Tapi, ada juga seri sukuk yang diserap lebih banyak Rp500 miliar jadi Rp1,85 triliun, yaitu seri PBS040 tenor 4 tahun.  

Yield Meninggi

Penurunan nilai penawaran dalam lelang sukuk, membuat yield tenor panjang jadi bergerak naik. Seperti di seri PBS034 dan PBS038 yang mencatat penurunan penawaran masing-masing 70,68% dan 64,13%, yield yang dimenangkan terkerek 16,45 basis poiin (bps) jadi 7,37% dan 17,28 bps jadi 7,38%. Kenaikan yield juga terjadi di seri PBS030 5,18 bps jadi 6,85%. dan PBS040 naik 13,1 bps jadi 7,16%. 

Kenaikan biaya pembiayaan ini terjadi menyusul ekspektasi inflasi global yang diperkirakan kembali meninggi. Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran yang belum melahirkan resolusi dan masih diliputi ketidakpastian membuat harga minyak bertahan tinggi. 

Bloomberg Economics memperkirakan, jika harga minyak bertahan tinggi di sekitar US$100/barel, inflasi tahun 2026 diperkirakan 4,4%.  

Meski begitu, bank sentral di beberapa negara belum mengirim sinyal hawkish. The Fed diperkirakan masih tetap menahan suku bunga acuannya di 3,75-4%. Sementara, perkiraan terhadap suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) kian terbelah.

Berdasarkan konsensus Bloomberg terbaru 17 dari 38 ekonom/analis yang disurvei memperkirakan BI akan mengerek suku bunga acuan ke 6%, sementara dua orang memperkirakan BI perlu mengerek BI Rate ke 6,25%. 

(dsp)

No more pages