Perusahaan-perusahaan tambang besar tengah berjuang menghadapi penurunan kadar bijih di tambang-tambang yang telah beroperasi selama puluhan tahun, sementara penemuan cadangan tembaga baru menjadi semakin sulit.
Kondisi ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga tembaga, yang didorong oleh pertumbuhan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta penerapan energi terbarukan dan elektrifikasi yang terus berlanjut.
Dinamika pasar struktural ini memicu upaya berbagai kesepakatan bisnis, termasuk upaya BHP untuk mengakuisisi Anglo American Plc tahun lalu yang tidak membuahkan hasil.
“Pasar global tetap fluktuatif; ketegangan geopolitik, ketidakpastian perdagangan, serta tingginya biaya energi dan pengangkutan terus menjadi hambatan bagi industri ini,” ujar CEO BHP, Brandon Craig, dalam dokumen resmi perusahaan.
Dia menyebut periode ini sebagai masa yang “membutuhkan banyak pemeliharaan.”
Saham perusahaan tersebut sempat turun hingga 2,6% pada awal perdagangan di Sydney.
Cili, lokasi tambang-tambang terbesar BHP, merupakan produsen tembaga terbesar di dunia. Namun, produksi tahunan negara tersebut telah merosot ke level terendah dalam lebih dari dua dekade akibat serangkaian kecelakaan fatal, peristiwa cuaca ekstrem, dan kesalahan operasional.
Menurut laporan kuartalannya, BHP memproduksi 400.700 ton tembaga pada kuartal tersebut, sementara produksi komoditas utama lainnya, yakni bijih besi, tetap stabil di angka 66,5 juta ton.
Harga jual tembaga tercatat naik 53% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, mencapai $7,01 per pon.
Perusahaan tambang terbesar di dunia ini harus mengeluarkan biaya besar hanya untuk mempertahankan tingkat produksi di tambang-tambang tembaga utamanya di Cili, sembari berupaya mencari sumber daya baru di wilayah lain di Amerika Selatan.
Pekan lalu, perusahaan berhasil mencegah aksi mogok kerja di tambang andalannya, Escondida.
Analis Citigroup Inc., Thiago Ojea, menyatakan dalam sebuah catatan bahwa tingginya harga tembaga seharusnya lebih dari cukup untuk mengompensasi penurunan volume produksi.
“Kadar bijih di Escondida tetap menjadi faktor penentu utama,” ujarnya.
Proyeksi untuk tembaga—logam kunci bagi elektrifikasi—tetap tidak berubah, begitu pula dengan perkiraan setahun penuh untuk bijih besi (bahan baku pembuatan baja) yang tetap berada di kisaran 260 juta hingga 272 juta ton.
“BHP hampir tidak memiliki ruang untuk melakukan kesalahan terkait tembaga tahun ini,” ujar Josh Gilbert, analis utama untuk wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah di eToro Ltd., kepada Bloomberg.
“Perusahaan kini harus mencatatkan rata-rata produksi lebih dari 415.000 ton dalam setiap kuartal selama tiga kuartal ke depan, hanya untuk mencapai batas bawah dari target yang ditetapkan.”
“Tahun pertama Craig sebagai CEO akan dinilai berdasarkan seberapa cepat operasional di Escondida dapat kembali ke kapasitas penuh,” katanya.
BHP juga berupaya meningkatkan produksi bijih besi di Australia Barat. Craig menargetkan pencapaian produksi tahunan sebesar 305 juta ton dalam waktu dekat, meskipun perusahaan telah melakukan pengurangan 300 pekerja di seluruh unit operasionalnya.
Di sisi lain, perusahaan terus melanjutkan pengembangan proyek potas Jansen di Kanada—yang sempat mengalami pembengkakan biaya dan keterlambatan waktu—dan tetap berada di jalur yang tepat untuk menghasilkan bijih pertama dari mineral pupuk utama tersebut pada tahun depan.
Pekan lalu, Rio Tinto Group, perusahaan yang menjadi pesaing terdekat BHP, melaporkan penurunan serupa dalam produksi tembaga dari aset-asetnya di Cili.
Namun, penurunan tersebut berhasil diimbangi oleh kinerja yang lebih baik di proyek skala besar Oyu Tolgoi milik mereka di Mongolia.
(bbn)































