Perang AS-Iran telah menyebabkan sebagian besar produksi LNG Qatar—yang sebelumnya mencakup sekitar seperlima dari pasokan global—terperangkap di balik Selat Hormuz.
Akibatnya, para pembeli terpaksa beralih ke pasar spot yang lebih mahal karena tidak bisa mendapatkan pasokan yang cukup melalui kontrak yang telah disepakati.
Situasi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan menjelang musim dingin di Belahan Bumi Utara, yang mendorong harga melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan tingkat harga sebelum konflik dimulai pada akhir Februari.
Beberapa pembeli di Asia tetap melakukan pembelian melalui pasar spot meskipun harganya tinggi, sehingga persaingan dengan Eropa untuk mendapatkan bahan bakar yang didinginkan secara ekstrem ini makin sengit.
Saat ini, tingkat penyimpanan gas di Eropa berada di angka 75%, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata musiman selama lima tahun terakhir yang mencapai 89%.
Krisis energi ini memicu kenaikan tagihan listrik rumah tangga dan inflasi, sekaligus memaksa sejumlah negara untuk lebih bergantung pada batu bara.
Menteri Energi Korea Selatan menyatakan pekan lalu bahwa negaranya akan mengandalkan bahan bakar fosil yang paling mencemari lingkungan tersebut, serta tenaga nuklir, untuk mengantisipasi lonjakan permintaan listrik selama musim dingin.
(bbn)































