Logo Bloomberg Technoz

“Karena GNI sedang tertekan secara finansial, terbelit masalah likuiditas, dan berstatus PKPU, posisi tawar pemilik lama melemah drastis. CNGR dapat masuk dengan valuasi yang jauh lebih murah dibandingkan dengan nilai intrinsik atau biaya pembangunan fisik smelter tersebut dari nol atau greenfield project,” kata Wahyu kepada Bloomberg Technoz, Selasa (20/10/2026).

Menurut Wahyu, CNGR memiliki likuiditas yang kuat dan keahlian teknis untuk mengoperasionalkan smelter yang baik, sehingga membeli aset brownfield dengan valuasi diskon merupakan langkah efisien untuk melakukan ekspansi cepat tanpa harus membangun infrastruktur.

Lebih Efisien

Selain itu, Wahyu mencatat CNGR memiliki aset dan operasional di sekitar wilayah Sulawesi yang berdekatan dengan GNI yakni PT Nadesico Nickel Industry, sehingga berpotensi menciptakan efisiensi rantai pasok, logistik, dan integrasi operasional.

“GNI adalah fasilitas smelter raksasa dengan kapasitas besar dan investasi jumbo senilai miliaran dolar. Jika akuisisi ini sukses, CNGR akan melompat menjadi salah satu pemain dominan yang mengontrol rantai pasok nikel terutama NPI hingga derivatif baterai jika dikonversi di Indonesia secara masif,” tegas Wahyu.

CNGR Advanced Material Co. sebelumnya dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk mengakuisisi pabrik nikel besar di Indonesia. 

Langkah tersebut berpotensi mengubah produsen material baterai ini menjadi salah satu pemain terbesar dalam industri pengolahan (smelter) nikel di tanah air.

Perusahaan asal China tersebut sedang bernegosiasi untuk membeli 80% saham PT Gunbuster Nickel Industry, menurut sumber-sumber yang mengetahui hal ini kepada Bloomberg baru-baru ini.

Akuisisi tersebut bisa terlaksana dalam waktu dekat, setelah proses restrukturisasi smelter yang terlilit utang itu—diperintahkan oleh pengadilan—berakhir pada awal tahun depan.

Pembicaraan masih berlangsung dan tidak ada jaminan kesepakatan akan tercapai, kata sumber-sumber tersebut, yang meminta tidak disebutkan namanya karena tidak memiliki wewenang untuk berbicara kepada media.

CNGR merupakan produsen material baterai kendaraan listrik dengan bisnis mencakup produksi prekursor, material katoda baterai litium. dan pengolahan material energi baru.

Perusahaan ini juga mengembangkan bisnis daur ulang baterai bekas, terlibat dalam rantai industri nikel dari pengolahan bahan baku, hingga produksi material untuk baterai.

CNGR didirikan pada September 2014, dengan kantor pusat di Yichang, Provinsi Hubei, China. Perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Shenzhen melalui papan ChiNext pada 23 Desember 2020.

Perusahaan tersebut juga memiliki kerja sama dengan sejumlah pemain industri baterai global, termasuk LG Chem, POSCO, SK On, L&F, CATL, dan Samsung. Material berbasis fosfor CNGR juga telah memperoleh sertifikasi dari sejumlah produsen baterai, seperti BYD, CALB, Gotion, dan EVE.

Indonesia menjadi salah satu basis produksi luar negeri CNGR melalui investasi di sejumlah kawasan industri pengolahan nikel. Perusahaan tercatat berinvestasi di empat lokasi utama di Indonesia, yakni Morowali dan Morowali Utara di Sulawesi Tengah, Weda Bay di Maluku Utara, serta Kalimantan Selatan.

Di Morowali, CNGR memiliki keterlibatan melalui PT Zhongtsing New Energy dan PT CNGR Ding Xing New Energy.

Sementara itu, ekspansi perusahaan di wilayah lain antara lain dilakukan melalui PT Nadesico Nickel Industry di Morowali Utara, PT Hengsheng New Energy Material Indonesia di Bantaeng, Sulawesi Selatan, serta PT Debonair Nickel Indonesia dan PT Jade Bay Metal Industry di Weda Bay.

Selain mengembangkan fasilitas pengolahan, CNGR juga berencana membangun Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Kawasan ini direncanakan berfokus pada pengembangan material energi baru dan industri hilir yang terintegrasi.

Adapun, operasional GNI mulanya dikabarkan terimbas oleh kejatuhan induk usaha lamanya di China, Jiangsu Delong Nickel Industry Co, akibat gagal bayar utang.

Dalam perkembangannya, manajemen GNI mengonfirmasi berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara bertahap terhadap 1.900 karyawan, dari total pekerjanya sekitar 6.300 orang.

Manajemen GNI menyatakan langkah tersebut terpaksa dilakukan sebab perseroan menghadapi keuangan yang menantang, tecermin dari proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sementara yang masih berlangsung.

"Perusahaan saat ini masih menghadapi kondisi keuangan yang sangat berat [...] Kondisi ini menyebabkan kemampuan keuangan perusahaan sangat terbatas, termasuk dalam memenuhi berbagai kebutuhan operasional," papar manajemen GNI dalam pernyataan resmi, Selasa (11/8/2026).

Dalam kondisi tersebut, GNI menyatakan dua dari tiga smelter berhenti beroperasi. Selain itu, perseroan mempertahankan operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) untuk menunjang operasional satu smelter tersebut.

GNI merupakan perusahaan pengolahan dan pemurnian bijih nikel yang berdiri sejak 2019. Smelter perusahaan berlokasi di Kawasan Industri Stardust Estate Investment (SEI) yang terletak di Desa Bunta, Petasia Timur, Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Adapun, smelter GNI mengadopsi teknologi pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) dengan kapasitas produksi 1,9 juta nickel pig iron (NPI) per tahun yang membutuhkan suplai bijih nikel sekitar 21,6 juta wet metric ton (wmt) per tahun.

Peresmian smelter tersebut dilakukan pada 27 Desember 2021 oleh Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dengan nilai investasi sekitar US$2,7 miliar.

Pada perkembangan lain, PT GNI mengonfirmasi sedang ditempatkan dalam proses PKPU sementara oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, sesuai dengan putusan perkara nomor 140/Pdt.Sus-PKPU/2026/PN.Niaga.Jkt.Pst.

Permohonan tersebut diajukan oleh PT Pancaran Karya Shipping dan PT Pancaran Maritim Transportindo, serta telah diputus dengan status PKPU sementara selama maksimal 45 hari sejak putusan diucapkan pada 19 Juni 2026.

GNI juga sedang menjalani gugatan wanprestasi atau ingkar janji karena belum melunasi kewajiban pembayaran berdasarkan lima invoice dengan total nilai Rp2,2 miliar.

(azr/wdh)

No more pages