"Karena itu, poinnya adalah bukan tentang potong anggarannya, tetapi bagaimana mencapai (output) dari yang direncanakan dengan pelaksanaan yang efisien," tegasnya.
Di tengah peningkatan belanja tersebut, Bendahara Negara tersebut memastikan outlook defisit APBN 2026 tetap dijaga di kisaran 2,85% terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Itu outlook yang kita jaga dan menjadi working agenda kita sampai dengan akhir tahun," tuturnya.
Sebagai catatan, Kemenkeu mencatat realisasi total belanja negara hingga September 2026 sebesar Rp2.660,5 triliun, tumbuh 19% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp3.621,3 triliun.
Namun, angka ini baru setara 69,2% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini yang mencapai Rp3.842 triliun.
Berdasarkan perinciannya, kenaikan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh membengkaknya realisasi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) yang naik mencapai 33,5% yoy menjadi Rp1.069,4 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp800,9 triliun.
Sementara itu, belanja non K/L tercatat mencapai Rp1.639,2 triliun, yang juga naik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang masih Rp1.541,4 triliun. Angkanya setara 60,5% dari target yang dipatok dalam APBN tahun ini.
(lav)
































