Perusahaan ini juga mengembangkan bisnis daur ulang baterai bekas, terlibat dalam rantai industri nikel dari pengolahan bahan baku, hingga produksi material untuk baterai.
CNGR didirikan pada September 2014, dengan kantor pusat di Yichang, Provinsi Hubei, China. Perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Shenzhen melalui papan ChiNext pada 23 Desember 2020.
Perusahaan tersebut juga memiliki kerja sama dengan sejumlah pemain industri baterai global, termasuk LG Chem, POSCO, SK On, L&F, CATL, dan Samsung. Material berbasis fosfor CNGR juga telah memperoleh sertifikasi dari sejumlah produsen baterai, seperti BYD, CALB, Gotion, dan EVE.
Indonesia menjadi salah satu basis produksi luar negeri CNGR melalui investasi di sejumlah kawasan industri pengolahan nikel.
Perusahaan tercatat berinvestasi di empat lokasi utama di Indonesia, yakni Morowali dan Morowali Utara di Sulawesi Tengah, Weda Bay di Maluku Utara, serta Kalimantan Selatan.
Di Morowali, CNGR memiliki keterlibatan melalui PT Zhongtsing New Energy dan PT CNGR Ding Xing New Energy.
Sementara itu, ekspansi perusahaan di wilayah lain antara lain dilakukan melalui PT Nadesico Nickel Industry di Morowali Utara, PT Hengsheng New Energy Material Indonesia di Bantaeng, Sulawesi Selatan, serta PT Debonair Nickel Indonesia dan PT Jade Bay Metal Industry di Weda Bay.
Selain mengembangkan fasilitas pengolahan, CNGR juga berencana membangun Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Kawasan ini direncanakan berfokus pada pengembangan material energi baru dan industri hilir yang terintegrasi.
CNGR juga pernah menjajaki kerja sama dengan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam untuk mengembangkan kawasan industri hilirisasi bijih nikel.
Ekspansi CNGR di Indonesia juga berkaitan dengan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk. (PACK). PT Eco Energi Perkasa (EEP), yang disebut sebagai anak perusahaan CNGR, mengakuisisi PACK.
Dengan struktur kepemilikan tersebut, CNGR disebut-sebut menjadi pengendali PACK secara tidak langsung.
PACK sebelumnya bernama PT Solusi Kemasan Digital Tbk. dan bergerak di bidang kemasan. Setelah akuisisi oleh EEP, perusahaan tersebut mengubah fokus bisnisnya ke industri logam dan nikel.
Untuk itu, CNGR disebut-sebut memiliki hubungan bisnis dengan pengusaha asal Kalimantan Selatan Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
Kerja sama tersebut berawal dari pengembangan bisnis hilirisasi nikel di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, dan kemudian berlanjut ke investasi di perusahaan publik.
Jejak kerja sama Haji Isam dan CNGR terlihat sejak 2022, ketika kelompok usaha Jhonlin mulai mengembangkan smelter nikel di Tanah Bumbu.
Dalam proyek tersebut, kelompok usaha Haji Isam bekerja sama dengan CNGR yang diwakili Deng Weiming.
Kerja sama tersebut kemudian berkembang melalui PT Anugerah Barokah Energy Baru (ABEB), perusahaan patungan yang dibentuk untuk mengembangkan pabrik ternary precursor berbasis nikel untuk kebutuhan baterai litium.
ABEB berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Setangga, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Adapun, pabrik prekursor tersebut diresmikan operasionalnya pada Januari 2026. Proyek ini mempertemukan bisnis Haji Isam melalui kelompok usahanya dengan CNGR dalam pengembangan bahan baku baterai berbasis nikel.
(azr/wdh)





























