Logo Bloomberg Technoz

Keberlanjutan pemulihan pasar saham akan diuji pekan ini setelah kekhawatiran mengenai belanja kecerdasan buatan (AI) dan suku bunga yang lebih tinggi mengguncang pasar. Laporan kinerja keuangan Meta Platforms Inc dan Tesla Inc akan memberikan petunjuk apakah pertumbuhan laba mampu menopang valuasi saham dan tingkat investasi yang tinggi.

“Hasil kinerja keuangan akan menunjukkan apakah pertumbuhan laba yang kuat dapat memulihkan kepercayaan terhadap reli saham,” kata Mark Haefele dari UBS Chief Investment Office. “Kami tetap memperkirakan pertumbuhan dan laba yang tangguh akan menopang saham, serta melihat peluang menarik pada obligasi berkualitas.”

Di kawasan Asia lainnya, bank sentral China mengisyaratkan bahwa suku bunga reverse repo semalam akan menggantikan suku bunga tujuh hari yang berlaku saat ini sebagai suku bunga acuan kebijakan moneter. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menyelaraskan kerangka kebijakan China dengan negara-negara lain dan berpotensi membantu menurunkan biaya pinjaman.

Harga minyak bergerak fluktuatif karena hambatan teknis menahan kenaikan yang dipicu oleh kembali meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent ditutup di atas US$109 per barel setelah melonjak hampir 4% pada Jumat, ketika para pedagang bersiap menghadapi risiko eskalasi perang di Iran.

Harga minyak sempat naik pada Senin sebelum kembali melemah setelah Iran menyatakan tidak memiliki “pilihan lain” selain menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz. Sementara itu, para anggota parlemen AS terus menentang kesepakatan ekspor solar Presiden Donald Trump dengan Rusia.

Euro juga menjadi perhatian para pedagang yang terus mempertimbangkan risiko geopolitik di Prancis.

Pemerintah Prancis memperketat langkah-langkah keamanan dan menjanjikan bantuan bagi dunia usaha setelah aksi protes terkait biaya hidup pada akhir pekan berubah menjadi kerusuhan, vandalisme, dan penjarahan. Namun, besarnya tumpukan utang dan defisit anggaran yang termasuk terbesar di kawasan euro membuat pemerintah Prancis tidak bisa begitu saja meningkatkan belanja untuk meredam ketidakpuasan masyarakat.

“Pendukung penguatan euro semakin sulit ditemukan belakangan ini,” tulis Thomas Hempell, kepala riset makroekonomi dan pasar di Generali Investments. “Dengan perang di Iran yang terus berlanjut dan situasi politik Prancis yang belum terselesaikan, penguatan euro dalam waktu dekat tampaknya tidak mungkin terjadi.”

(bbn)

No more pages