Logo Bloomberg Technoz

Nafan berharap keluarnya saham HSC dalam perhitungan indeks dapat membuat IHSG lebih representatif dalam mencerminkan kondisi pasar secara keseluruhan.

“Karena saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi berpotensi memiliki keterbatasan saham beredar di publik atau free float, sehingga pergerakan harganya dapat kurang mencerminkan kondisi pasar yang lebih luas,” kata Nafan lewat catatannya, Selasa (20/10/2026).

Kendati demikian, Nafan mengatakan, penyesuaian metodologi itu berpotensi menimbulkan volatilitas dan pergeseran persepsi investor dalam jangka pendek.

“Terutama apabila pasar menilai kebijakan ini sebagai bagian dari upaya pembenahan tata kelola pasar modal setelah munculnya evaluasi MSCI,” tuturnya,

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari dua inisiatif baru yang disiapkan bursa untuk memperkuat transparansi dan integritas pasar modal Indonesia.

“Untuk memberikan indeks harga yang lebih kredibel dan berintegritas, kami akan mengeluarkan seluruh saham high shareholding concentration dari Indeks Harga Saham Gabungan,” ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (19/10/2026).

Menurut Jeffrey, kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran pergerakan IHSG yang lebih wajar, mengingat terdapat potensi risiko pada saham-saham yang masuk dalam kategori HSC.

“Oleh karena itu, untuk memberikan gambaran yang lebih wajar dari IHSG, kami akan mengeluarkan seluruh saham dalam HSC dari IHSG,” katanya.

Jeffrey menyebut saham-saham yang masuk kategori HSC saat ini memiliki cakupan sekitar 18%. Namun, dia tidak merinci lebih lanjut basis perhitungan angka tersebut.

Dia menegaskan, kebijakan tersebut bukan merupakan delisting atau penghapusan pencatatan saham dari bursa. Saham-saham yang masuk kategori HSC tetap dapat diperdagangkan di pasar reguler, tetapi perubahan harganya tidak akan diperhitungkan dalam pergerakan IHSG.

“Bukan delisting, tetapi tidak diperhitungkan di dalam perhitungan IHSG,” kata Jeffrey.

Sebelumnya, BEI telah menerapkan pembatasan terhadap saham HSC dengan mengeluarkannya dari sejumlah indeks acuan utama, yakni IDX30, LQ45, dan IDX80.

IHSG Terendah Sejak 2020 Silam (Bloomberg)

IHSG melemah 3,64% di posisi 4.996,6 pada perdagangan Senin (19/10/2026). Sejumlah saham big caps menjadi pemberat indeks seperti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hingga PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Secara analisis teknikal, tekanan berpotensi berlanjut dengan support 4.800–4.900, terutama jika tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar masih terjadi. 

Di sisi lain, nilai perdagangan bursa kemarin mencapai Rp25,15 triliun dari sejumlah 34,08 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi menyentuh 1,62 juta kali diperjualbelikan.

Tercatat hanya ada penguatan 100 saham, dan 656 saham melemah. Sisanya 43 saham stagnan.

Saham–saham barang baku, saham infrastruktur, dan saham konsumen non primer big caps menjadi pemberat IHSG, dengan masing–masing minus 4,56%, 4,44% dan 4,08%. Adapun saham konsumen primer, saham kesehatan, dan saham perindustrian juga turut melemah pada penutupan perdagangan kemarin.

(naw)

No more pages