Selain sektor mineral, realisasi investasi hilirisasi perkebunan dan kehutanan pada kuartal III-2026 tercatat menyentuh Rp29,2 triliun.
Investasi tersebut ditopang oleh sektor kelapa sawit sebesar Rp14,9 triliun, kayu log Rp9 triliun, karet Rp3,9 triliun, dan komoditas lainnya Rp1,4 triliun.
Sementara itu, realisasi investasi hilirisasi minyak dan gas bumi (migas) tercatat Rp18,6 triliun pada kuartal III-2026. Nilai tersebut terdiri atas investasi minyak bumi Rp14,7 triliun dan gas bumi Rp3,9 triliun.
Adapun, investasi hilirisasi perikanan dan kelautan mencapai Rp3,5 triliun.
Berdasarkan lokasi, Sulawesi Tengah menjadi daerah dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar pada kuartal III-2026 senilai Rp44,2 triliun.
Posisi berikutnya ditempati Maluku Utara senilai Rp30,1 triliun, Kalimantan Barat Rp23,9 triliun, Sulawesi Tenggara Rp15,7 triliun, dan Jawa Barat Rp11,1 triliun.
Berdasarkan asal modal, investasi hilirisasi didominasi penanaman modal asing (PMA) senilai Rp144,8 triliun atau 80% dari total realisasi. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp35,1 triliun atau 20%.
Hong Kong menjadi asal PMA terbesar dengan nilai investasi Rp70,7 triliun, Singapura menyusul dengan Rp50,4 triliun, diikuti Korea Selatan sebesar Rp6,3 triliun, China Rp5,8 triliun, dan Jepang Rp3,8 triliun.
Realisasi Kumulatif
Sepanjang Januari—September 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun atau tumbuh 11,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Rosan mengungkapkan sektor hilirisasi mineral menopang investasi sepanjang Januari—September 2026 dengan nilai Rp335,1 triliun.
Secara terperinci, hilirisasi nikel masih menjadi penopang investasi hilirisasi hingga kuartal III-2026 yakni sebesar Rp118,9 triliun.
Posisi kedua ditempati bauksit dengan realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp115,7 triliun. Ketiga, hilirisasi besi baja dengan realisasi investasi Rp40,8 triliun.
Kemudian, hilirisasi tembaga dengan realisasi investasi sebesar Rp39,5 triliun, hilirisasi pasir silika dengan realisasi Rp7 triliun, dan hilirisasi komoditas mineral lainnya dengan realisasi Rp13,2 triliun.
"[Sektor] yang paling tinggi memang masih mineral dengan nilai Rp335,1 triliun, di dalamnya ada nikel, bauksit, besi baja, tembaga, pasir silika, dan lainnya. Selain itu, terdapat hilirisasi perkebunan dan kehutanan sebesar Rp83,6 triliun, minyak dan gas bumi Rp54 triliun, dan perikanan dan kelautan Rp7,3 triliun," tegas Rosan.
Pada semester I-2026, realisasi investasi hilirisasi mencatatkan angka Rp300,1 triliun, atau menyumbang 29,7% dari total realisasi investasi sebesar Rp1.010,6 triliun. Angka ini tumbuh 6,9% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kontributor utama investasi di bidang hilirisasi ini pada semester I-2026 ini dipimpin oleh sektor mineral yakni sebesar Rp 206 triliun yang terutama disumbang oleh komoditas nikel, bauksit, dan tembaga.
(azr/wdh)



























