Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, Destry juga menyoroti kemungkinan kenaikan dari suku bunga Amerika Serikat, Fed funds rate meski pada Oktober probabilitas kenaikan  menjadi lebih kecil.

“Sehingga itu yang tentu menjadi salah satu tantangan buat rupiah kita,” kata Destry.

Meski begitu, Destry menyebut bahwa dalam dua hari terakhir rupiah bisa dijaga stabilitasnya. Sehingga terjadi memang pelemahan, sedikit pelemahan, dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di emerging market.

Sebagai informasi, Rupiah hari ini, Senin (19/10/2026), ditutup melemah 0,17% ke Rp18.043/US$, terbebani aksi jual di pasar saham dan surat utang domestik. Rupiah sempat menyentuh Rp18.051/US$ di sesi intraday perdagangan pasar spot. 

Tekanan eksternal turut membebani gerak rupiah. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di kisaran 101,5, diikuti dengan harga minyak mentah bertahan tinggi di atas US$100/barel.

Namun, probabilitas kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang terpangkas jadi 16% dari sebelumnya 20% membawa angin segar bagi sebagian mata uang Asia. 

Untuk diketahui, tekanan di pasar keuangan Tanah Air saat ini datang dari memudarnya kepercayaan investor setelah MSCI mempertimbangkan akan mengubah klasifikasi jadi standalone market, alih-alih frontier market seperti pertimbangan sebelumnya. 

MSCI menilai benah-benah transparansi saham Indonesia belum optimal memperbaiki struktur perdagangan hingga kepemilikan saham di bursa.

“Meski reformasi telah diumumkan, kekhawatiran signifikan masih ada terkait disfungsi pasar, termasuk dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang terus berlanjut dan tidak adanya bukti penegakan aturan yang berarti,” begitu sebut MSCI dalam keterangan resminya.

(ell)

No more pages