Bali Diklaim Normal
Lebih lanjut, Bahlil mengklaim antrean pembelian BBM di wilayah Bali telah berangsur normal. Dia mengatakan stok BBM RON 90 atau Pertalite di Bali berada di sekitar 11–12 hari dan saat ini bakal ditambah menjadi sekitar 15 hari.
Kendati begitu, dia mengaku mendapatkan laporan bahwa antrean yang terjadi telah terurai baru-baru ini.
“Tadi saya dapat laporan dari Pak Gubernur, Pak Kapolda, GM di sini, semua SPBU sudah berjalan normal. Jadi insyallah kita akan jaga ritmenya,” kata Bahlil.
Baru-baru ini, Ombudsman Republik Indonesia (RI) juga mengumumkan laporan adanya indikasi kebocoran dan penyalahgunaan BBM bersubsidi di lapangan.
Praktik curang tersebut diduga melibatkan aktivitas pelangsiran hingga penggunaan tangki kendaraan yang telah dimodifikasi oleh para spekulan.
Anggota Ombudsman RI Abdul Ghoffar mengungkapkan bahwa penyelewengan ini memicu pergeseran pola konsumsi BBM di masyarakat.
"Selain itu, terdapat dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi seperti aktivitas pelangsiran dan penggunaan tangki yang dimodifikasi," kata Abdul Ghoffar dalam agenda konferensi pers di Kantor Ombudsman, Rabu (14/10/2026).
Ghoffar menjelaskan penemuan tersebut memicu peralihan pengguna BBM nonsubsidi ke produk yang disubsidi oleh pemerintah.
"Di Sumatra Selatan, misalnya, ditemukan indikasi perpindahan konsumen nonsubsidi ke Solar subsidi," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ombudsman juga melaporkan krisis distribusi BBM yang meluas dan melanda 11 provinsi di Indonesia, sehingga pemerintah dan pihak terkait mesti segera melakukan evaluasi secara menyeluruh.
“Permasalahan BBM antara lain dilaporkan di Provinsi Bali, Papua Barat, Banten, Kalimantan Barat, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Aceh, dan Jawa Barat,” ungkap Abdul Ghoffar.
Ombudsman mencatat antrean kendaraan dilaporkan mencapai lebih dari 1 kilometer (km), seperti yang terjadi di Aceh dan Bali dengan waktu tunggu melebihi 3 jam.
Sementara itu, antrean sepanjang 300 hingga 700 meter terpantau terjadi di Provinsi Sumatra Utara, Sumatra Barat, Banten, Jawa Barat, Bali, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, hingga Sulawesi Utara dengan waktu tunggu berkisar antara 2—3 jam.
Adapun, khusus di Provinsi Papua Barat, antrean panjang sekitar satu kilometer terjadi khususnya pada malam hari.
PPN mengungkapkan terdapat 17 terminal bahan bakar minyak (TBBM) milik perseroan yang berada di sekitar alur sungai, yang saat ini rawan mengalami penurunan tinggi air gegara fenomena El Niño.
Direktur Utama PT PPN Mars Ega Legowo Putra menyatakan perseroan bersama otoritas terkait bakal mencari solusi agar pemenuhan kebutuhan BBM masyarakat tetap terpenuhi, tetapi dia menegaskan hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh PPN sendiri.
“Terdapat 17 terminal BBM Pertamina Patra Niaga yang berada di dalam alur sungai yang rawan pendangkalan. Tentunya ini kita harus bersama-sama nanti memberikan solusi agar layanan kepada masyarakat,” kata Mars Ega dalam RDP di Komisi XII DPR RI, Selasa (8/9/2026).
Dalam bahan paparan yang ditampilkan, berikut 17 TBBM di alur sungai yang rawan alami pendangkalan:
1. LPGT Pangkalan Susu
2. FT Sei Siak
3. FT Tembilahan
4. FT Jambi
5. FT Pulau Baai
6. IT Palembang
7. IT Pangkal Balam
8. IT Pontianak
9. FT Sintang
10. FT Sanggau
11. FT (S) Ketapang
12. FT (S) Tg Pandan
13. IT Sampit
14. FT Pulang Pisau
15. IT Banjarmasin
16. FT (S) Berau
17. IT Samarinda
(azr/ros)

























