"Membeli motor merupakan keputusan keuangan jangka panjang. Jadi, yang perlu dilihat nanti apakah pesanan tetap berlanjut setelah pasokan BBM pulih, atau justru banyak yang dibatalkan," pungkas Yohannes.
Di sisi lain, Yannes mengakui bahwa keberadaan motor listrik memang dapat membantu kelancaran aktivitas harian sebagian warga Bali di tengah gangguan distribusi BBM.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa motor listrik belum dapat diandalkan sebagai solusi utama untuk mengatasi dampak krisis BBM di wilayah tersebut.
"Motor listrik jelas bisa membantu. Keunggulannya, mobilitas mereka tidak bergantung langsung pada ketersediaan bensin di SPBU," kata Yannes.
Namun, ia menekankan bahwa populasi kendaraan listrik di Bali saat ini masih jauh dibanding populasi motor bermotor mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE).
"Tetapi motor listrik belum bisa dianggap sebagai solusi utama kelangkaan BBM di Bali, karena jumlah penggunanya masih relatif kecil dibanding sekitar 4,7 juta unit sepeda motor ICE yang ada saat ini sudah beroperasi di Bali," jelas Yannes.
Oleh karena itu, ia menilai penanganan masalah distribusi BBM tetap harus menjadi prioritas jangka pendek pemerintah.
"Untuk kondisi darurat, prioritas awal tetap memulihkan distribusi BBM. Sementara dalam jangka panjang, elektrifikasi bisa membantu mengurangi ketergantungan terhadap bensin, terutama untuk perjalanan harian," tambahnya.
Sebelumnya, gangguan ketersediaan BBM di wilayah Bali dilaporkan turut membuka peluang bagi pasar motor listrik. Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) mengonfirmasi adanya peningkatan minat masyarakat di kawasan yang terdampak.
"Dari informasi yang kami terima, beberapa anggota AISMOLI memang mulai merasakan adanya peningkatan minat dan permintaan motor listrik khususnya di wilayah yang terdampak kelangkaan BBM seperti Bali," ujar Ketua Umum AISMOLI Budi Setiyadi saat dihubungi, Kamis (15/10/2026).
Budi mengungkapkan bahwa keterbatasan stok lokal memaksa salah satu produsen anggota asosiasi memberlakukan sistem inden hingga sepekan untuk mendatangkan unit dari luar daerah. Kendati demikian, pihak asosiasi belum dapat merinci angka pasti lonjakan penjualan tersebut.
"Kami belum memiliki data konsolidasi untuk menyimpulkan seberapa besar peningkatan penjualan motor listrik di Bali secara keseluruhan," tutur dia.
Budi menambahkan bahwa para produsen menyikapi fenomena ini secara terukur mengingat sifat permintaan yang masih lokal dan situasional. Walau begitu, tren ini dinilai menjadi indikator positif bagi pergeseran persepsi masyarakat terhadap kendaraan listrik.
"Fenomena ini menunjukkan adanya potensi pasar yang cukup besar, terutama apabila didukung oleh harga yang terjangkau, kemudahan pembiayaan, serta ketersediaan layanan purnajual dan infrastruktur pengisian daya," kata dia.
Untuk diketahui, kelangkaan BBM di Bali dalam beberapa hari terakhir telah memicu warga dan pelaku usaha pariwisata mencari kendaraan alternatif. Di platform media sosial Threads, keluhan terkait antrean panjang di SPBU serta kesulitan mendapatkan unit motor listrik sewa ramai diperbincangkan.
"In this situation, tolong saranin motor listrik buat di Bali. Aku lagi hopeless banget karena kerja jauh harus tiap hari antre BBM," tulis akun bernama @vespera_star, dikutip Kamis (15/10/2026).
Keluhan serupa juga datang dari para pengusaha penyewaan kendaraan yang kesulitan memenuhi permintaan wisatawan akibat operasional armada konvensional terganggu.
"Tolong info saran yang sewain motor listrik. Rental motor langganan pada tutup gara-gara gak ada bensin. Padahal banyak tamu yang mau sewa," tulis akun @niki.tabi.
(ain)




























