Bahlil menyatakan antrean pembelian dan langkanya BBM di Bali terjadi gegara masalah teknis terkait manajemen logistik di Pertamina.
Di sisi lain, Bahlil mengklaim stok BBM jenis Solar di Bali tercatat sebesar enam hari. Sedangkan stok BBM nonsubsidi seperti Pertamax Series dan Dex Series diklaim di atas standar nasional.
Kuota Pertalite Tak Dikurangi
Bahlil mengklaim tak terdapat pengurangan kuota Pertalite untuk wilayah Bali. Dia justru memutuskan untuk menaikkan pasokan Pertalite di Bali dari 11 hari menjadi 15 hari.
“Menurut laporan dari Pak Pertamina itu kan karena terjadinya keterlambatan kapal sandar. Tapi kuotanya tidak dikurangi, saya malah hari ini baru memerintahkan Dirjen Migas dan BPH Migas untuk menaikkan kuota,” tutur dia.
Adapun, Gubernur Bali I Wayan Koster menerapkan sistem ganjil genap pengisian bahan bakar minyak (BBM) Pertalite di Bali mulai Sabtu (17/10/2026).
Koster menetapkan pembelian BBM lewat sistem ganjil genap itu berlaku sampai 19 Oktober 2026. Kebijakan itu tertuang dalam Surat Gubernur Bali No.B.21.500.1/16673/V/DISNAKER.ESDM.
Berdasarkan data Pertamina, dua kapal pengangkut BBM telah bersandar di Bali pada 16 Oktober 2026 dengan total muatan 20 juta liter Pertalite.
Tambahan pasokan 20 juta liter Pertalite tersebut didistribusikan melalui dua fasilitas penerimaan BBM.
Sebanyak 16 juta liter disalurkan melalui terminal Manggis menggunakan kapal MT Pangkalan Brandan, sedangkan 4 juta liter lainnya diterima melalui terminal BBM Sanggaran menggunakan kapal MT Asian Rigel.
Per 17 Oktober 2026, stok BBM di Terminal Sanggaran dan Terminal Manggis ditingkatkan hingga sekitar 48 juta liter. Selain pasokan yang telah tiba, Pertamina Patra Niaga juga memperkuat suplai sekitar 57,9 juta liter BBM yang dijadwalkan tiba bertahap pada 14 hingga 17 Oktober 2026.
(azr/ros)




























