Logo Bloomberg Technoz

“Yang hilirisasi energi, ya itu kita kerjakan bersama-sama. Jadi clear,” ungkapnya. 

Dalam kesempatan yang sama Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet menyampaikan kesiapannya untuk langsung tancap gas di hari pertama bertugas. Ia menekankan bahwa fokus utamanya adalah membantu Mentan merealisasikan swasembada pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani.

“Sudah mendapatkan arahan yang lebih jelas tentang tugas saya membantu Pak Menteri. Bagaimana mewujudkan swasembada pangan dan juga kesejahteraan petani. Nah, dua hal itu saya kira bisa dicapai dengan peningkatan produktivitas, efisiensi, dan juga keberlanjutan,” ujar Alim kepada awak media. 

Untuk menopang target penekanan impor beras dan peningkatan produktivitas di atas 10 ton per hektar, Alim akan mendorong penerapan sistem pertanian modern berbasis riset, inovasi, serta teknologi tepat guna melalui sinergi intensif bersama perguruan tinggi dan lembaga riset nasional.

“Saya sempat bisikkan mulai dari varietas, mulai dari SOP, dan juga research dan lain-lain. Tidak hanya perguruan tinggi, saya kira BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) juga penting. Saya juga akan koordinasi dengan BRIN dan kemudian, membawa ini menjadi kolaborasi,” jelasnya.

Dalam peta jalan kerjanya, terdapat tiga komoditas prioritas yang bakal langsung diakselerasi guna mempertahankan capaian produksi nasional serta mengurangi beban impor secara signifikan.

“Tadi juga, bagian saya memastikan melalui pertanian modern menjaga capaian swasembada beras yang sudah kita capai. Dan yang kedua kedelai, yang ketiga bawang putih. Ada beberapa yang lain, nanti kita lihat lebih detail,” pukas Alim.

Untuk diketahui, Alim Setiawan Slamet, resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Republik Indonesia pada Kamis, 15 Oktober 2026 di Istana Negara, Jakarta. Latar belakang Alim berakar kuat di dunia akademis dan ilmu agribisnis. Pria kelahiran Demak, 27 Februari 1982 ini menuntaskan pendidikan S1 dan S2 Teknologi Industri Pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB), lalu meraih gelar Doktor (S3) Pemasaran Pertanian dan Agribisnis di Ehime University, Jepang. 

Sebelum diangkat menjadi Wamentan, ia meniti karier di IPB sebagai dosen dan memegang berbagai jabatan strategis, seperti Direktur Kemahasiswaan, Wakil Rektor Bidang Resiliensi Sumberdaya dan Infrastruktur, hingga akhirnya dilantik sebagai Rektor IPB University.

(ain)

No more pages