Di samping itu, saham-saham yang melemah dalam dan menjadi top losers di antaranya saham PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) yang ambles 33,3% saham PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) yang jatuh 25%, dan saham PT PP Properti Tbk (PPRO) yang ambruk 21,4%.
Mencermati regional, Bursa Saham Asia lainnya masih ada yang menguat. KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), PSEI (Filipina), SETI (Thailand), Ho Chi Minh Stock Exchange (Vietnam), dan Straits Time (Singapura), yang berhasil menguat masing-masing 0,65%, 0,61%, 0,41%, 0,21%, 0,12%, dan 0,11%.
Di sisi berseberangan, tertekan bersama IHSG, NIKKEI 225 (Jepang), KLCI (Malaysia), Weighted Index (Taiwan), Shenzhen Comp. (China), SENSEX (India), CSI 300 (China), TOPIX (Jepang), dan Shanghai Composite (China), yang terpeleset masing-masing mencapai 0,87%, 0,81%, 0,75%, 0,61%, 0,42%, 0,15%, 0,09%, dan 0,04%.
Jadi, IHSG adalah indeks dengan pelemahan paling ambles hingga menjadi yang paling jatuh di Bursa Asia.
Sentimen yang menggerakkan IHSG hari ini hingga kembali ke level 10 tahun yang lalu, datang dari kegelisahan meningkatnya tekanan jual pasca announcement MSCI yang tengah mempertimbangkan untuk menurunkan Indonesia menjadi Standalone Market, dua tingkat di bawah Emerging Market.
“Hal tersebut meningkatkan risiko penurunan kepercayaan investor asing dan berlanjutnya capital outflow, tercermin dari net outflow yang tercatat sebesar Rp6,98 triliun sepanjang bulan Oktober 2026,” papar Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya siang hari ini, Senin (19/102/206).
Merespons kondisi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi denda kepada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp1,5 triliun, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp500 miliar, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp100 miliar atas pelanggaran ketentuan pasar modal.
Disisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menurunkan batas Auto Reject Bawah (ARB) simetris menjadi 7% untuk saham berharga Rp11 hingga seterusnya (dari yang sebelumnya: 15% flat), mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026, sebagai mekanisme pengendalian volatilitas jangka pendek.
Pelemahan terjadi seiring dengan broad sell off satu market akibat kekhawatiran MSCI Indonesia yang berpotensi di downgrade Standalone Market sehingga terjadi outflow signifikan. Pasar juga masih menanti bukti konkrit reformasi pasar modal. Biarpun fundamental domestik relatif terjaga, pemulihan kepercayaan investor tetap bergantung pada perbaikan transparansi dan tata Kelola.
(fad)
























