Ambrolnya IHSG hari ini terseret sentimen wait and see terhadap agenda Bursa Efek Indonesia (BE) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dijadwalkan menggelar pertemuan virtual dengan MSCI. Pertemuan ini untuk meminta klarifikasi terkait rencana perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut, otoritas ingin memahami alasan di balik pengumuman MSCI yang dinilai muncul di luar jadwal evaluasi reguler, yang sebelumnya diperkirakan berlangsung pada November.
“BEI juga akan meminta penjelasan mengenai pertimbangan MSCI, termasuk perkembangan komunikasi dan pengakuan atas kemajuan reformasi pasar modal Indonesia sebelumnya,” sebut BRI Danareksa dalam catatannya,
Pertemuan ini merupakan respons atas kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi dampak perubahan klasifikasi terhadap persepsi investor. Adapun hasil pertemuan dijadwalkan disampaikan kepada publik melalui konferensi pers setelah agenda berlangsung.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, bila benar terealisasi di mana Indonesia akan keluar dari indeks MSCI Emerging Market dan masuk Standalone Markets, maka bisa memicu US$5,6 miliar arus dana keluar pasif. Demikian menurut kalkulasi Goldman Sachs.
Tambahan US$2,7 miliar juga berpotensi terdampak apabila FTSE mengambil langkah serupa, tulis Analis Goldman Sachs termasuk Alvin So dan Timothy Moe.
“Dalam kasus-kasus downgrade MSCI Emerging Market terbaru, pasar biasanya mengalami kinerja yang lebih buruk dibanding benchmark yang lebih luas selama dua hingga tiga bulan setelah pengumuman konsultasi awal, sebelum kemudian stabil,” terangnya.
“Kami tetap underweight terhadap Indonesia, karena tekanan dari indeks yang berkepanjangan, lemahnya laba, serta hambatan makroekonomi kemungkinan akan membatasi terjadinya re-rating yang berkelanjutan,” papar Goldman Sachs.
(fad/aji)
























