Logo Bloomberg Technoz

Investasi aset tetap menyusut 7,2% selama sembilan bulan pertama tahun ini, tidak berubah dari penurunan yang tercatat pada periode Januari–Agustus.

Meski perlambatan ekonomi semakin dalam dalam beberapa bulan terakhir, para pejabat China awalnya berfokus pada pelaksanaan kebijakan pro-pertumbuhan yang sudah ada. Pemerintah baru meningkatkan dukungannya tiga pekan lalu dengan meluncurkan paket langkah baru yang lebih terarah.

Pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia ini ditandai oleh kesenjangan antara ekspor yang melonjak—didorong oleh siklus investasi global besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI)—dan belanja rumah tangga yang lesu, sementara investasi masih terjebak dalam kemerosotan berkepanjangan. Pasar tenaga kerja juga melemah di tengah dampak berkepanjangan dari penurunan sektor properti yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Permintaan domestik yang lemah membuat China semakin bergantung pada ekspor sebagai sumber pertumbuhan. Kondisi ini meningkatkan tekanan dari mitra dagang agar Beijing mengatasi surplus perdagangannya yang sangat besar. Surplus tersebut diperkirakan mencapai rekor baru tahun ini, melampaui US$1,2 triliun yang tercatat pada 2025.

Uni Eropa tengah menyiapkan kewenangan baru yang dapat memungkinkannya membatasi akses China ke pasar tunggal Eropa sebagai bagian dari upaya besar untuk menyeimbangkan kembali perdagangan bilateral.

Sementara itu, para pemimpin negara lain mendesak Beijing agar membiarkan mata uang China menguat lebih jauh. Mereka menilai yuan berada di bawah nilai wajarnya sehingga memberikan keunggulan kompetitif yang tidak adil bagi eksportir China. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan yuan akan berada dalam kondisi undervaluation sebesar 17,3% hingga 25,3% pada 2026, dengan titik tengah 21,3%.

(bbn)

No more pages