Sentimen positif bagi harga emas datang dari pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve Kevin Warsh. Dalam diskusi di sela-sela Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok akhir pekan lalu, Warsh tidak membuat komentar soal arah kebijakan The Fed secara rinci. Meski Warsh kembali menegaskan komitmen terhadap stabilitas harga.
“Kami sudah jelas menyebut akan mewujudkan stabilitas harga, dan kami sudah menghapus sebagian kebijakan akomodatif sekitar sebulan lalu. Saya tidak menebak dari rapat ke rapat. Saya tidak yakin bahwa sesuatu yang saya katakan sekarang akan berdampak terhadap rapat selanjutnya,” tutur Warsh, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Setelah pernyataan Warsh, pasar keuangan bergerak. Probabilitas kenaikan suku bunga acuan dalam rapat The Fed periode Oktober pada akhir pekan lalu anjlok menjadi sekitar 15% dari hari sebelumnya hampir 30%.
“Warsh sengaja untuk meredam ekspektasi hawkish di pasar dan membawa stabilitas di pasar obligasi. Inflasi memang masih menjadi perhatian, dan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut tidak bisa dikesampingkan. Namun Warsh sepertinya tidak buru-buru dalam menaikkan suku bunga acuan lagi,” jelas Gerald Tan, Chief Investment Officer di Read Capital Partners, juga dikutip dari Bloomberg News.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi, demikian pula sebaliknya.
(aji)


























