Logo Bloomberg Technoz

IHSG Berpotensi Lanjut Melemah, MSCI Masih Jadi Pemicu Utama

Muhammad Julian Fadli
19 October 2026 08:40

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (14/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (14/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Senin 19 Oktober 2026, berpotensi melanjutkan tren pelemahan. Sejumlah sentimen negatif menghantui, dari ancaman downgrade status pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market, hingga potensi keluarnya dana asing mencapai lebih US$3 miliar, menghadirkan tantangan bagi investor.

Pada perdagangan saham sebelumnya Jumat (16/10/2026), IHSG ditutup di zona merah dengan mencatatkan pelemahan 678,67 poin (11,57%) hingga menutup perdagangan di posisi 5.185,1. Penurunan tersebut sekaligus membuat tren turun terbesar sejak 1998.

Analisis Teknikal IHSG pada Senin 19 Oktober (Riset Bloomberg Technoz)

Secara teknikal IHSG berpotensi lanjutkan tren bearish, dengan menuju area support trendline terdekatnya pada area level 5.000 hingga 4.800 setelah perdagangan sebelumnya, IHSG melemah dengan tekanan jual yang amat deras di time frame daily. 


Adapun support kuat selanjutnya yang menarik dicermati ada pada level 4.500. Sedang untuk resistance penguatan pertama pada level 5.280 sebagai target potensialnya, dan ada resistance 5.500 sebagai target selanjutnya.

Sentimen pada perdagangan hari ini utamanya datang dari global. Kabar terbaru dari MSCI menyoal proposal untuk mengubah klasifikasi Indonesia dari pasar negara berkembang (Emerging Market), menjadi pasar mandiri atau Standalone Market.