Setelah pernyataan Warsh, pasar keuangan bergerak. Probabilitas kenaikan suku bunga acuan dalam rapat The Fed periode Oktober pada akhir pekan lalu anjlok menjadi sekitar 15% dari hari sebelumnya hampir 30%.
“Warsh sengaja untuk meredam ekspektasi hawkish di pasar dan membawa stabilitas di pasar obligasi. Inflasi memang masih menjadi perhatian, dan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut tidak bisa dikesampingkan. Namun Warsh sepertinya tidak buru-buru dalam menaikkan suku bunga acuan lagi,” jelas Gerald Tan, Chief Investment Officer di Read Capital Partners, juga dikutip dari Bloomberg News.
Pernyataan Warsh memang belum bisa mendongkrak harga emas, karena masih ada ruang bagi The Fed untuk menaikkan Federal Funds Rate. Namun tidaknya koreksi menjadi tidak terlampau dalam.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.
Analisis Teknikal
Lalu bagaimana prediksi harga emas untuk pekan ini? Apakah bisa naik lagi atau justru turun?
Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas masih tersangkut di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 44. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Sedangkan indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 33. Menghuni area jual (short) yang kuat.
Untuk perdagangan minggu ini, harga emas masih berpeluang naik lagi. Apalagi pivot point US$ 4.152/troy ons sudah dilewati.
Target resisten terdekat adalah Moving Average (MA) 5 di US$ 4.195/troy ons. Dari situ, harga emas punya potensi untuk menguji level US$ 4.207-4.296/troy ons.
Target paling optimistis adalah US$ 4.382/troy ons.
Namun kalau harga emas malah turun, maka US$ 4.097/troy ons rasanya bisa menjadi support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko memangkas harga ke US$ 4.047-4.008/troy ons.
Target paling pesimistis adalah US$ 3.943/troy ons.
(aji)























